Tapha Semesta Angkara - Mahasiswa UIN Bandung

 
12 05 2012
Wanita, Media, dan Pornoaksi

KATA porno sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Porno sudah bukan lagi kata yang jijik untuk didengar.  Dan, tubuh wanita menjadi objek porno dan menjadi masalah sosial di tengah masyarakat luas.

Menurut sebagian kelompok, seks merupakan karunia Tuhan kepada manusia. Seks juga di pandang sebagai sumber ketenangan batin, sumber inspirasi, bahkan bisa menjadi salah satu tujuan akhir perjuangan manusia. Ketika kita mendengar kata porno, maka wanita yang akan menjadi objeknya. Lekukan tubuh wanita yang semakin indah dan goyangan badan bisa semakin merangsang hasrat seorang laki-laki untuk melakukan hubungan seksual.

Pornoaksi adalah suatu penggambaran aksi gerakan, lenggokan, liukan tubuh, penonjolan bagian-bagian tubuh yang dominan memberi rangsangan seksual sampai dengan aksi mempertontonkan payudara dan alat vital yang tidak disengaja atau disengaja untuk memancing bangkitnya nafsu seksual yang melihatnya. Pornoaksi pada awalnya merupakan aksi-aksi objek seksual yang dipertontonkan, sehingga menimbulkan rangsangan seksual bagi seseorang termasuk menimbulkan histeria seksual di masyarakat.

Sedangkan pornomedia merupakan realitas porno yang diciptakan oleh media. Dapat melalui gambar-gambar dan teks-teks porno yang dimuat di media cetak, film-film porno yang ditayangkan di televisi, cerita-cerita cabul yang disiarkan di radio, provider telepon yang menjual jasa suara-suara rayuan porno dan sebagainya. Juga proses penciptaan realitas porno itu sendiri seperti proses tayangan-tayangan gambar serta ulasan-ulasan cerita tentang pencabulan di media masssa, proses rayuan-rayuan yang mengandung rangsangan seksual melalui sambungan telepon, penerbitan teks-teks porno dan sebagainya.

Dari sisi ini bisa dilihat, wanita sangat dirugikan dalam kegiatan pornoaksi ataupun perilaku seks yang bisa dengan mudah menyebar di media massa. Entah itu lewat internet, televisi atau media cetak. Kita bisa lihat kasus Inul Daratista yang mempertontonkan lekuk tubuhnya dengan goyongan merangsang para penonton dan penggemarnya. Dengan gencar media elektronik seakan bangga memiliki sosok seperti Inul. Di siarkan setiap hari, bisa dari pagi sampai malam buta. Inul hampir tampil di seluruh media televisi, baik di Indonesia sampai ke mancanegara.

Peran Media

Melalui tayangan media televisi, Inul mendobrak seluruh tata kesopanan dengan goyangan yang merangsang. Dengan bantuan media pula, Inul bisa melejit dan populer dengan begitu mudah. Dan dengan sangat gampangnya pula, Inul menjadi sorotan seluruh masyarakat yang menyaksikan. Dari komentar halus sampai yang pedas pun terlontar dari berbagai kalangan masyarakat.  

Dari mulai masyarakat pinggiran, tukang becak, tukang bangunan, pedagang, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, tokoh agama, sampai kepada kalangan artis seperti Rhoma Irama. Mereka gencar memberikan komentar kepada apa yang dilakukan Inul di media televisi. Di sinilah, kita bisa lihat bahwa pornoaksi bisa ditunjang dengan pornomedia. Sehingga keduanya bisa saling membantu. Walaupun keberadaan Inul sebagai wanita dicaci habis-habisan oleh kalangan masyarakat.

Masyarakat seakan terhipnotis dengan wacana Inul dan konstruksi sosial media massa yang begitu memesona pengetahuan tentang pentas Inul ngebor. Media pun memberi ruang sangat luas sekali agar Inul bisa tayang di ruang publik televisi yang juga hidup di dalamnya berbagai interes dan kepentingan. Sebagian masyarakat pun, dengan tidak langsung banyak yang menyalahkan keberadaan media di belakang Inul. Jika tidak disiarkan media televisi, maka Inul tidak akan dengan mudah menghipnotis masyarakat luas dengan goyagan ngebornya.

Pornoaksi yang ditunjang media sangat merugikan sekali bagi kaum wanita. Inul hanyalah salah satu korban media yang memiliki kepentingan di balik semua itu. Entah mengejar rating yang tinggi atau pun lainnya. Wanita itu memang memiliki daya tarik dan bisa membangun selera yang luar biasa. Tak heran bila kemudian banyak media yang menginginkan wanita untuk dapat dijadikan sebagai model.  Entah itu model iklan,  model majalah atau pun model periklanan. Pada kenyataanya, media sangat berpengaruh luar biasa dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat. []

Tapha Semesta Angkara, Mahasiswa UIN Bandung



Berita ini telah dibaca 00382 kali.


Berita terkait Wanita, :
 

  

  

  

  

 

Komentar Anda:


Berita lainnya:


About Us | Susunan Redaksi | Iklan | Disclaimer |