Tingkatkan Wawasan Pentingnya Data, Media Hadiri Workshop Bersama BPS

Bandung.BandungOke,– Ibarat dua sisi mata uang, data statistik hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) selalu dapat dipandang dari dua sudut yang berbeda.

Pemahaman media akan data menjadi penting karena mereka adalah corong informasi yang akan mengarahkan pandangan publik akan data tersebut.

“Melalui kegiatan ini kami mengetahui apa sih yang dibutuhkan oleh teman-teman media dari BPS. Dan, apa yang diharapkan BPS dari teman – teman media” ujar kepala BPS Provinsi Jawa Barat Dyah Anugrah Kuswardani, dalam acara Workshop dan Talkshow “Urgensi Data di Mata Media” Selasa (9 November 2021)

Hingga saat ini, tuturnya, data official BPS masih diberikan kepercayaan untuk data yang sifatnya official. Namun, perlu juga diluruskan bahwa semua data itu ada di BPS tidak sepenuhnya besar.

Dyah menjelaskan ada data yang bersifat official dan ini dikeluarkan oleh BPS, dimana data ini dipergunakan untuk pengambilan secara makro. Selain itu, ada juga data sektoral yang dikeluarkan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sehingga jika mencari data tidak harus semua ke BPS.

“Nah, hal – hal seperi ini harus diinformasikan kepada masyarakat melalui teman – teman media” ungkapnya.

Harapannya kedepan, setelah melalui kegiatan ini akan tercipta satu pemikiran yang sama apa yang bisa dikelola bersama terkait dengan data ini. Sehingga data – data dari BPS ini bisa tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat melalui teman- teman media.

“Teman – teman media inilah nantinya yang akan menyampaikan data dan makna dari angka – angka ini kepada masyarakat luas melalui bahasa yang mudah difahami” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pranata Hubungan Masyarakat Madya BPS Eko Oesman yang mengatakan, tidak semua data di BPS.

“Tugas BPS terbatas, sehingga tidak semua data ada. Seperti misalnya jumlah lapangan bola. Tapi BPS punya data berapa jumlah desa yang punya fasilitas olahraga” jelasnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Direksi Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman menegaskan bahwa jiwa dari jurnalisme itu adalah data. Persoalannya justru dalam ekosistem 4.0 ini adalah jurnalisme data ini terpinggirkan oleh jurnalisme yang meminggirkan data.

“Ini menjadi persoalan karena konten yang muncul saat ini adalah yang viral, dan menafikan data” tegas Erwin.

Meski demikian, hingga saat ini masih banyak media yang menjunjung jurnalisme berkualiatas yakni jurnalisme yang berdasarkan data.

“Saya melihat, saat ini masih banyak media yang menjunjung jurnalisme berkualaitas sehingga tidak perlu pesimis” ujarnya.

“Tanpa data, tidak akan mungkin mengambil keputusan yang baik” tandasnya.