Istilah Lahar Panas dan Lahar Dingin, Begini Penjelasan Bah Rono

Istilah lahar dingin dan lahar panas belakangan sering terdengar, bahkan muncul di berbagai media, menyusul erupsi Gunung Semeru

Jakarta – Istilah lahar dingin dan lahar panas belakangan sering terdengar, bahkan muncul di berbagai media, menyusul erupsi Gunung Semeru beberapa hari lalu. Lalu apa sebenarnya lahar dingin dan lahar panas tersebut dan apa yang membedakannya?

Pakar Gunung Api, Surono menerangkan, sebenarnya tidak ada istilah lahar panas maupun lahar dingin. Lahar sendiri, menurut dia adalah aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran batu, pasir dan kerikil akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng gunung-gunung berapi.

“Di istilah ilmiah, lahar itu hanya ada dua. Lahar letusan dan lahar hujan,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Rono ini.

Mantan Kepala Badan Geologi dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menjelaskan, lahar letusan adalah lahar campuran antara material padat dan cari yang keluar dari suatu gunung berapi.

“Misalnya gunung api mempunyai kawah, kawahnya berisi air, seperti Kelud. Begitu meletus, airnya terangkat, terlontarkan bercampur dengan material. Terus kemudian tersebar ke semua arah. Itu namanya lahar letusan. Lahar letusan pasti panas,” jelasnya.

Adapun lahar hujan, lanjut dia, adalah campuran antara material letusan gunung api, seperti kerikil, kerakal halus, hingga batu-batuan besar ataupun endapan awan panas, dengan air hujan yang kemudian mengalir bergerak mengikuti lereng.

“Itu namanya lahar hujan. Lahar hujan itu bisa panas kalau yang tercampur dengan air hujan adalah endapan awan panas,” pungkasnya.***