Bandung.BandungOke,– Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2022 sebagai landasan dasar pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan (Indhan) telah resmi ditandatangani Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 12 Januari lalu. Holding BUMN Indhan dengan nama Defend ID terdiri dari PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Pindad dan PT Dahana.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Bobby Rasyidin menjelaskan, “Bagi semua anggota Defend ID, pembentukan holding akan meningkatkan kemampuan finansial dan akses pendanaan. Holding juga akan meningkatkan skala bisnis di level regional dan internasional, termasuk meningkatkan _bargaining power_ dalam kerjasama dan alih-teknologi, serta mempercepat penguasaan teknologi melalui kolaborasi dalam membangun produk bersama yang berteknologi khusus dan tinggi berbasis _dual use of technology_ (pertahanan dan non-pertahanan).”

Bagi Kementerian Pertahanan dan TNI, pembentukan holding akan memberi keuntungan berupa kesesuaian produk alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) dengan kebutuhan militer, pelayanan yang lebih baik dari sisi kualitas produk, serta dapat menjamin kemudahan perawatan dan pemeliharaan alpalhankam dalam negeri.

“Kuncinya, semua unsur industri pertahanan nasional harus dapat saling mendukung satu sama lain, baik BUMN maupun swasta. Kolaborasi dan keterkaitan antar lembaga stakeholder yang kuat merupakan prasyarat untuk menciptakan ekosistem industri pertahanan nasional yang kuat, mandiri dan sehat,” sambung Bobby.

Tantangan & Target Holding BUMN Indhan Defend ID

Meningkatkan kontribusi nasional dan bersaing di level internasional merupakan 2 tantangan utama dan target Holding BUMN Indhan Defend ID ke depan.

Berdasarkan prognosa, kinerja kelima BUMN Indhan pada akhir tahun 2021 meraup total pendapatan sebesar Rp15,98 triliun (pertahanan dan non-pertahanan). Sebesar Rp7,98 triliun berasal dari sektor pertahanan atau 19% penyerapan terhadap anggaran alpalhankam tahun 2021.

Pencapaian tersebut meningkat dari total pendapatan tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp12 triliun (pertahanan dan non-pertahanan) atau sebesar Rp5,8 triliun dari sektor pertahanan atau 16% penyerapan terhadap anggaran alpalhankam tahun 2020.

Sementara itu, prognosa total aset Defend ID di akhir tahun 2021 sebesar Rp36,04 triliun dan ditargetkan tumbuh menjadi Rp39,88 triliun di tahun 2022.

Kinerja tahun 2020 belum dapat membawa Defend ID masuk dalam daftar _Top 100 Global Defence Company_ di tahun 2021. Di tahun 2022 ini, pendapatan konsolidasi ditargetkan bisa mencapai Rp20,87 triliun atau Rp11 triliun di antaranya dari sektor pertahanan. Jika itu tercapai maka diprediksi Defend ID dapat merangsek ke Top 90 Global Defence Company dengan asumsi pendapatan perusahan lain tidak berubah.

“Kondisi saat ini antara lain dipengaruhi oleh keterbatasan pembiayaan modal kerja dan investasi, keterbatasan kontrak jangka panjang 5 hingga 10 tahun, ekosistem industri pertahanan dan pengadaan yang belum sepenuhnya terintegrasi, serta rasio TKDN dan anggaran R&D yang perlu semakin ditingkatkan”, jelas Bobby.

Sementara itu, di level internasional, Holding BUMN Indhan dituntut dapat meningkatkan _bargaining position_ dengan mitra asing dan meningkatkan kerjasama dengan berbagai skema, seperti _join production, join investment, join development, join marketing, join operation_ dan skema bisnis lainya yang saling menguntungkan.

Program Prioritas Holding Defend ID

Holding Defend ID akan menjalankan setidaknya 10 prioritas, yaitu business development melalui _global partnership,_ pengembangan bisnis _Maintenance, Repair & Overhaul (MRO),_ integrasi matra, digitalisasi dan implementasi ERP, restrukturisasi _financial & liabilities management, streamlining_ Anak Perusahaan, implementasi _shared service_ untuk seluruh anggota holding, melakukan riset dan inovasi bersama melalui pendirian IDMRI _(Indonesia Defence & Manufacturing Reseach Institute),_ optimalisasi sumber daya manusia, mengintegrasikan ekosistem dan _supply chain_ industri pertahanan melalui kerja sama dengan seluruh industri pertahanan baik di tier 2, 3 dan 4, serta melakukan peningkatan TKDN untuk berbagai produk ungggulan Holding BUMN Indhan.

Menurut Bobby, holding dapat meminimalisir terjadinya tumpang tindih produk antar anggota Defend ID. Len sebagai induk holding berperan mewujudkan _interoperability_ atau mengintegrasikan elektronik 3 matra TNI baik darat, laut, maupun udara.

Len fokus pada platform dan MRO yang menjadi penentu superioritas alat utama sistem persenjataan (alutsista), dan terintegrasinya berbagai sistem pertahanan nasional _(Network Centric Warfare)_ dengan radar pertahanan dan penginderaan bawah air sebagai program prioritasnya.

Dirgantara Indonesia (DI) fokus pada pengembangan platform matra udara dan MRO dengan pesawat tempur, rudal, dan drone sebagai program prioritasnya.

PAL Indonesia fokus pada pengembangan platform matra laut dan MRO dengan kapal selam sebagai program prioritasnya.

Pindad fokus pada pengembangan platform matra darat dan MRO serta penyediaan senjata dan munisi dengan medium tank dan roket sebagai program prioritasnya.

Dahana fokus pada pengembangan produk _energetic materials_ atau bahan peledak untuk seluruh matra dengan propelan sebagai program prioritasnya. (***)

LEAVE A REPLY