BandungOke – Di tengah arus deras digitalisasi dan konten serba instan, secercah cahaya datang dari aula Balai Riung, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung.
Pada Kamis, 22 Mei 2025, Prita Stania, mahasiswi Universitas Pasundan asal Kecamatan Batununggal, resmi dinobatkan sebagai Duta Baca Kota Bandung 2025.
Bukan sekadar gelar, penobatan ini adalah buah dari perjalanan panjang dan penuh makna. Dari total 52 peserta yang mendaftar, hanya 12 finalis yang berhasil menembus tahap grand final. Di antara mereka, Prita mencuri perhatian dengan semangat dan visi kuat dalam memajukan budaya literasi di Bandung.
“Saya percaya literasi bukan sekadar membaca buku. Ini tentang memahami, meresapi, dan kemudian membagikannya kembali lewat tindakan nyata,” ujar Prita usai penobatan.
Proses menuju gelar ini bukan perkara mudah. Para finalis harus menjalani serangkaian pelatihan intensif dari komunikasi publik, wawasan literasi, hingga proyek sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Mereka bukan hanya diuji dari sisi akademis, tapi juga empati, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.
Menurut Medi Mahendra, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, ajang Duta Baca bukan hanya mencari ikon, tapi juga membentuk agen perubahan.
“Generasi Z harus hadir sebagai generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai literasi dan kemanusiaan dalam setiap aspek kehidupan,” tuturnya.
Selain Prita, nama-nama lain juga bersinar. Femi Syadela dari Unpas dan Salwa Azzahar dari Universitas Indonesia Membangun meraih posisi juara dua dan tiga. Sementara penghargaan khusus diberikan pada finalis dengan keunggulan tertentu, seperti Duta Intelegensia, Media Sosial, dan Favorit pilihan publik.
Namun lebih dari sekadar kompetisi, momen ini menjadi titik awal gerakan literasi yang lebih besar. Paguyuban Duta Baca Kota Bandung diharapkan menjadi motor penggerak yang aktif menyebarkan semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis di berbagai sudut kota.
Bandung tak sekadar berbicara tentang kopi, musik, atau kreativitas. Kota ini kini menyimpan bara semangat baru dari anak-anak muda yang percaya bahwa literasi adalah kunci untuk perubahan. Dan Prita Stania, dengan senyum yakin dan buku di tangan, siap menyalakan api itu.***
Editor : Denny Surya






