KABUPATEN BANDUNG, BandungOke.com – Ada yang berubah dari wajah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Welas Asih.
Logo barunya kini tampil dengan siluet kujang biru, kaligrafi Arab, dan lima titik merah muda. Semua tampak penuh makna.
Filosofis, kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi—atau lebih sering disapa KDM. Namun, di balik parade simbol dan narasi budaya, ada pertanyaan yang menggantung: adakah jejak sejarah yang sengaja disamarkan?
“Ini gambar kujang dengan tiga lubang di punggungnya yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan,” ujar KDM saat peluncuran logo, Selasa (8/7).
Kujang, sebagai senjata tradisional Sunda, diangkat menjadi simbol utama. Namun, tak hanya itu. KDM melangkah lebih jauh dengan memasukkan simbol rahim, lima titik kehidupan, hingga kaligrafi Ar-Rahman Ar-Rahim. “Manusia lahir dengan cinta,” katanya.
Sejarah Yang Dihilangkan
RSUD ini dulunya bernama Al Ihsan. Nama yang sarat makna keislaman dan melekat erat pada sejarah pendiriannya oleh para tokoh keagamaan.
Kini, Al Ihsan tinggal nama yayasan. Sementara rumah sakitnya—atas nama rebranding—berubah menjadi Welas Asih. Persis seperti nama baru yang terdengar lebih soft, lebih netral, dan mungkin lebih jauh dari akar sejarahnya.
Maka tak heran jika narasi simbol yang begitu tebal dari KDM dibaca oleh sebagian sebagai upaya “melunakkan” kritik atas pergantian nama tersebut.
Apalagi dalam kesempatan itu, KDM seolah memberi isyarat adanya “utang simbolik” terhadap pendiri Al Ihsan.
“Jangan lupa, saya titip. Letakkan di bagian depan. Tulis nama-nama mereka dengan baik, lalu kita beri apresiasi kepada keluarga mereka,” pintanya kepada Direktur RSUD Welas Asih.
Sebuah titipan, yang justru memperlihatkan bahwa ada yang dilupakan.
KH Olih Komarudin dari Yayasan Al Ihsan tampak menerima makna logo itu dengan tangan terbuka. Tapi apakah penerimaan itu juga mencerminkan suara para pendiri dan keluarga besar Al Ihsan? Atau ini semata-mata respons diplomatis demi menjaga hubungan baik dengan kekuasaan?
Simbol bisa menjadi alat edukasi, tetapi juga dapat menjadi tameng. Ketika simbol menjadi tebal, dan sejarah yang nyata justru mengabur, kita patut bertanya: ini transformasi atau penghapusan?***
Editor : Deny Surya






