close
RCAST.NET
HOT
BandungOKE
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Hidup Pekerja dan Satwa Berselimut Kabut, Kebun Binatang Bandung Disimpang Jalan

by admin
18 September 2025 - 14:27
Aksi Humanis Pekerja Bandung Zoo, Boneka Satwa Jadi Simbol Nasib yang Terancam

Bandung, BandungOke.com – Di balik hiruk-pikuk sengketa hukum dan kriminalisasi, ada pihak-pihak yang tak pernah diajak bicara: ratusan satwa dan puluhan karyawan yang menggantungkan hidup di Kebun Binatang Bandung.

Sengketa tanah yang panjang telah menjadikan kebun binatang bukan lagi rumah nyaman bagi konservasi, melainkan arena ketidakpastian.

RelatedPosts

Ketika Konservasi Berubah Jadi Kriminalisasi, Tragedi Keluarga Bratakusumah

Kebun Binatang Bandung, Warisan yang Tergerus dari Kolonial ke Konflik Modern

Sang Jurnalis Yang Terlupakan, Pahlawan Sunyi yang Berjuang Tanpa Pengakuan

“Kalau konflik terus begini, satwa yang paling dirugikan,” kata seorang perawat hewan yang sudah 20 tahun bekerja di sana.

Satwa yang Terjebak Konflik

Kebun Binatang Bandung kini merawat lebih dari lebih 650 ekor satwa dari mamalia besar seperti gajah dan beruang, hingga primata, reptil, dan burung langka. Namun, konflik berkepanjangan membuat kesejahteraan satwa kerap terancam.

Dana perawatan tersendat, fasilitas konservasi terbengkalai, dan rencana pengembangan kandang baru terhenti. “Ada satwa yang seharusnya dipindahkan ke kandang yang lebih luas, tapi terbengkalai karena tidak ada kepastian dana,” ujar sumber internal Kebun Binatang Bandung kepada Redaksi BandungOke.com.

Kerjasama breeding loan dengan Taman Safari, yang dulu diharapkan jadi solusi, malah menjadi sumber sengketa baru. Kepemilikan anakan satwa dipersoalkan, sementara publik tak tahu ke mana arah konservasi itu berjalan.

Karyawan dalam Ketidakpastian

Tak hanya satwa, puluhan karyawan juga terjebak dalam pusaran konflik. Mereka yang bertahun-tahun bekerja merawat hewan kini menghadapi gaji yang tak menentu, status kerja yang abu-abu, dan masa depan yang tidak jelas.

“Setiap bulan kami deg-degan, apakah gaji kami kedepan masih akan cair?,” ungkap seorang pegawai. “Kami tetap kerja, karena kalau kami tinggalkan, satwa bisa mati. Tapi sampai kapan kami kuat?”

Konservasi yang Terkorbankan

Ironi terbesar dari konflik ini adalah hilangnya tujuan awal kebun binatang yakni konservasi. Dengan status hukum yang kabur, sulit bagi YMT untuk mengajukan program konservasi baru atau menjalin kerja sama dengan lembaga internasional.

“Siapa yang mau bekerja sama dengan institusi yang status lahannya digugat?” ujar seorang aktivis lingkungan di Bandung. “Satwa jadi korban diam. Tidak bisa protes, tidak bisa menuntut.”

Sementara itu, Kementerian Kehutanan sudah memberi izin konservasi hingga 2033. Namun izin administratif itu tak cukup untuk menjamin keberlangsungan. Tanpa kepastian tanah, izin hanyalah kertas.

Publik yang Kehilangan

Harus diakui, Kebun Binatang Bandung sudah menjadi ikon rekreasi warga kota. Puluhan ribu anak sekolah pernah belajar tentang satwa di sana, generasi demi generasi tumbuh dengan kenangan memberi makan rusa di balik pagar. Kini, kunjungan merosot tajam.

“Dulu kami bangga punya kebun binatang sendiri. Sekarang, malu kalau bawa tamu ke sana,” kata seorang warga Tamansari.

Di sisi lain, Pemkot Bandung dan ATR/BPN lebih sibuk mengukur tanah dan menghitung aset, sementara fungsi sosial kebun binatang sebagai ruang edukasi publik kian terpinggirkan.

Masa Depan yang Gantung

Pertanyaan besar kini menggantung, siapa yang sebenarnya berhak menentukan masa depan Kebun Binatang Bandung? Apakah negara lewat BPN dan Pemkot? Apakah yayasan keluarga Bratakusumah? Atau justru korporasi konservasi besar yang punya modal lebih?

“Yang jelas, kalau konflik terus berlanjut, satwa bisa jadi korban pertama, karyawan korban kedua, dan publik korban terakhir,” tutur tokoh sunda.

Trilogi narasi Kebun Binatang Bandung berakhir pada sebuah ironi, dari sejarah kolonial yang kaya, ke perebutan hukum yang getir, hingga masa depan konservasi yang tergantung di udara.

Sejarah, hukum, dan ekonomi telah mempermainkan sebuah institusi konservasi. Namun, di balik lembaran akta dan persidangan, ada kehidupan nyata satwa yang lapar, pawang yang cemas, dan publik yang kehilangan ruang belajar.

Kebun Binatang Bandung, warisan 90 tahun, kini menunggu apakah ia akan tetap berdiri sebagai simbol konservasi, atau tinggal nama dalam catatan sejarah yang dikaburkan?***

Tags: bandung zooEma Bratakusumahkebun binatang bandungkonflik tanahkonservasi satwaRomly Bratakusumahsewa lahantaman safariyayasan margasatwa tamansariYMT
Share222Tweet139Share56

Trending

KAI Daop 2 Tambah 4 KA untuk Nataru, Antisipasi Lonjakan Penumpang
Jawa Barat

Tiket KA Lebaran 2026 Resmi Dijual Bertahap Mulai 25 Januari

2 hari ago
Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar
Kota Bandung

Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar

2 hari ago
Toyota New Veloz Hybrid EV: Tantangan Baru di Pasar MPV Indonesia
Nasional

Toyota New Veloz Hybrid EV: Tantangan Baru di Pasar MPV Indonesia

2 hari ago
Stasiun Jatake Siap Beroperasi, Keselamatan Jadi Kunci Mobilitas Warga
Nasional

Stasiun Jatake Siap Beroperasi, Keselamatan Jadi Kunci Mobilitas Warga

3 hari ago
Perlintasan Sebidang Masih Rawan,  Bukti Lemahnya Kebijakan Keselamatan Publik
Jawa Barat

Perlintasan Sebidang Masih Rawan,  Bukti Lemahnya Kebijakan Keselamatan Publik

3 hari ago
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam