BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Sunda Melawan! PEWARIS Ultimatum Rebut Kembali Kebon Binatang Bandung

Denny Surya
19 September 2025 - 22:38
Trisula AMS dan Derenten yang Terancam, Ketika Warisan Sunda Dibelah Kekuasaan



Bandung, BandungOke.com – Aroma perlawanan dari tanah Pasundan makin terasa pekat. Forum Penjaga Warisan Sunda (PEWARIS) resmi mengeluarkan maklumat yang mengguncang publik.

Kebon Binatang Bandung bukan sekadar arena rekreasi, melainkan simbol sejarah, identitas, dan warisan budaya Sunda yang tak boleh ditukar dengan kepentingan bisnis.

“Bandung Zoo adalah warisan sejarah urang Sunda, bukan milik segelintir kelompok. Jangan ada yang coba-coba merampasnya,” tegas Rully Alfiandi, tokoh masyarakat Sunda, Jumat (19/9/2025).

RelatedPosts

Wihaji Ungkap Risiko Ekonomi 2045 di Depan 2.000 Mahasiswa UIN SGD

PDI-P Jabar Kumpulkan Rp200 Juta, Satwa Bandung Zoo Diselamatkan Seketika!

Polisi Dalami Insiden Ban Truk Kontainer Copot di Pantura Cirebon, Pemotor Luka Parah

Pernyataan keras ini muncul di tengah polemik panjang antara Yayasan Margasatwa Tamansari, pengelola historis sejak era Raden Ema Bratakusumah dengan kelompok yang diduga kuat akan melakukan pengambilalihan secara sepihak sejak 2017.

Bagi PEWARIS, polemik yang terjadi bukan sekadar konflik manajemen, melainkan perampasan sejarah. “Upaya memutarbalikkan fakta demi kepentingan kelompok tertentu adalah pengkhianatan terhadap warisan leluhur urang Sunda,” tegas isi maklumat.

Tiga Tuntutan PEWARIS

Lewat deklarasi resmi, PEWARIS mengajukan tiga tuntutan ultimatum:

1. Menghargai dan melestarikan sejarah Sunda. Nilai historis dan budaya harus ditempatkan di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.

2. Mengembalikan pengelolaan Bandung Zoo kepada keluarga penerus Raden Ema Bratakusumah. Sebagai penghargaan atas jasa pendiri yang merawat aset kultural urang Sunda.

3. Menjaga fungsi ekologis Babakan Siliwangi. Lahan kebun binatang harus dipertahankan sebagai kawasan konservasi, bukan dialihfungsikan demi proyek ekonomi lain.

Warisan yang Terancam

Kebon Binatang Bandung berdiri sejak 1933 dengan nama Derenten, kebun binatang tertua kedua di Indonesia setelah Surabaya. Dari konservasi hingga pendidikan publik, ia telah menjadi bagian dari identitas Bandung.

Namun sejak kesepakatan operasional dengan Jhon Sumampau pada 2017 silam, arah pengelolaan berubah. Indikasi perebutan kendali makin nyata, mengabaikan akar sejarah dan budaya Sunda.

“Warisan Sunda ini tidak untuk diperdagangkan. Getih Kuring Siliwangi, Jiwa Kami Pakusarakan. Jika perlu, kami rebut kembali!” seru Rully Alfiandi lantang.

Maklumat itu menjadi alarm keras bahwa Bandung sedang kehilangan identitas, ditekan modal dan kuasa.

Gelombang Perlawanan

Deklarasi PEWARIS juga mendapat dorongan dari berbagai tokoh Sunda seperti Dindin S. Maolani yang menegaskan forum ini segera melangkah ke jalur politik dan hukum.

“Forum ini bisa sesegera mungkin audiensi ke DPRD, mendesak Kejaksaan mencabut izin sementara yang diberikan kepada yayasan yang dipimpin Sumampau, dan meminta klarifikasi kepada wali kota maupun BPN,” kata Dindin.

Ia menambahkan, gerakan harus diperluas dengan melibatkan Perhimpunan Kasundaan, ormas, dan tokoh masyarakat lainnya. “Waktunya tepat sekarang segera harus bergerak. Kehilangan momentum, kita tidak akan cukup kuat, karena para komprador selalu unggul dalam pendanaan,” tegasnya.

Identitas di Persimpangan

Polemik ini lebih dari sekadar rebutan aset. Bagi banyak kalangan, ini adalah pertarungan identitas. Kebon Binatang Bandung adalah simbol bahwa Sunda punya sejarah, punya warisan, dan berhak menolak dominasi ekonomi yang melupakan akar budaya.

Momentum penyelamatan kebun Binatang jadi triger kebangkitan orang Sunda yang
seolah tersengat dan tersadarkan bahwa warisan budaya dan sejarah Sunda selama ini terabaikan dari pantauan pegiat kesundaan.

Padahal jika dicermati sudah banyak hak orang Sunda yang telah dalam penguasaan ‘asing’ alias pihak yg tidak berkorelasi atas hak sejarah dan budaya Sunda.

Seperti kata maklumat, ini bukan soal kalah atau menang. Ini soal sejarah mencatat bahwa urang Sunda pernah melawan, dan tidak menyerah pada keadaan.***

Tags: BandungKebon Binatang BandungPEWARISWarisan Sundayayasan margasatwa tamansariYayasan Taman Safari
Share633Tweet396Share158
ADVERTISEMENT

Trending

Dana TJSL KAI Daop 2 Tembus Rp1,1 Miliar, Ini Sasarannya
Berita

Dana TJSL KAI Daop 2 Tembus Rp1,1 Miliar, Ini Sasarannya

2 jam ago
Dari Mengaji hingga UMKM, Strategi ICMI Bandung Ubah Wajah Literasi Warga
Kota Bandung

Dari Mengaji hingga UMKM, Strategi ICMI Bandung Ubah Wajah Literasi Warga

3 jam ago
Farhan Tegas: RS Tak Boleh Tolak Pasien Darurat di Bandung
Kota Bandung

Farhan Tegas: RS Tak Boleh Tolak Pasien Darurat di Bandung

4 jam ago
90 Menit Bisa Baca Al-Qur’an? Program ICMI–Pemkot Bandung Ini Jadi Sorotan
Kota Bandung

90 Menit Bisa Baca Al-Qur’an? Program ICMI–Pemkot Bandung Ini Jadi Sorotan

6 jam ago
Sekda Bandung Soroti Pentingnya Data Akurat, Ajak Warga Isi Sensus Ekonomi
Kota Bandung

Sekda Bandung Soroti Pentingnya Data Akurat, Ajak Warga Isi Sensus Ekonomi

7 jam ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!