Bandung, BandungOke. — Di tengah tumpukan persoalan kota mulai dari sampah menumpuk, jalan rusak, dan banjir tak kunjung reda, Pemkot Bandung justru menggelar acara mewah bertajuk Pesuguhan: A Sensoritual Gastrodiplomacy di Pendopo Kota Bandung, Jumat (17/10).
Dentingan sendok dan aroma rempah seolah menjadi hiburan simbolik ketika realitas kota sedang kumuh dan carut-marut.
Wali Kota Muhammad Farhan menyebut diplomasi rasa bisa menyatukan dunia. Ia mencontohkan pengalaman kulinernya di luar negeri dan mengajak dunia mengenal bubur hanjeli hingga wedang tebu.
Tapi di saat yang sama, pedagang kecil di Bandung masih kesulitan izin usaha dan bahan baku. Diplomasi rasa yang dirancang Pemkot tampak lebih memanjakan tamu asing ketimbang memperbaiki dapur warga sendiri.
Sekretaris Kemenparekraf Dessy Ruhati menekankan nilai spiritual dan solidaritas lewat makanan. Namun, bagi warga Bandung, yang dibutuhkan bukan lagi filosofi rasa, melainkan kebijakan nyata untuk menekan harga pangan dan memperkuat ekonomi rakyat.
Bandung memang sedang “beraroma” internasional, tapi wangi rempah itu tak mampu menutupi bau ketimpangan yang makin terasa di dapur rakyatnya.***
Editor : Deny Surya






