Bandung, BandungOke – Atmosfer berbeda di Haris Hotel Citylink Bandung Sabtu (18/10/2025) pagi itu menyeruak memenuhi ruangan. Di atas panggung, sebuah layar besar menampilkan pertanyaan seputar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Tapi yang membuat menarik bukan soal hafalan pasal, melainkan cara para siswa SMA dari berbagai daerah di Jawa Barat menautkan nilai-nilai itu dengan isu kekinian seperti perdagangan daring, otonomi daerah, hingga etika di ruang digital.
Inilah wajah baru sosialisasi empat pilar kebangsaan yang digagas MPR RI. Lewat lomba cerdas cermat, nilai-nilai dasar negara kembali diuji relevansinya di tangan generasi yang tumbuh dengan gawai dan media sosial.
“Buat saya ini surprise, anak-anak Gen Z dan bahkan Gen Alpha ternyata cukup memahami empat pilar ini dengan caranya sendiri,” kata Nurul Arifin, Anggota MPR RI Fraksi Golkar, saat ditemui usai lomba. Sabtu (17/10/2025)
Nurul menggarisbawahi, yang paling penting bukan sekadar hafal pasal, melainkan mampu mengaitkan nilai-nilai dasar itu dengan realitas masa kini.

Dalam sesi pertama cerdas cermat 4 Pilar kebangsaan ini, kata Nurul, SMA di Karawang keluar sebagai pemenang. Namun kemenangan sejati, tegasnya adalah pada meningkatnya minat pelajar memahami ideologi bangsanya.
“Kami di Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI akan terus mengadakan kegiatan semacam ini. Karena kita tahu, nilai-nilai kebangsaan sedang menghadapi ujian di tengah derasnya arus globalisasi,” ujarnya.
Dalam lomba itu para peserta tak hanya diminta menghafal isi undang-undang. Mereka juga diuji dengan argumentasi kritis. Sebuah pertanyaan misalnya, meminta peserta menjelaskan pro dan kontra terhadap kebijakan digitalisasi perdagangan.
Dari situ terlihat, generasi muda tak hanya mampu mengutip bunyi pasal, tapi juga berpikir reflektif tentang makna keadilan sosial dan keberpihakan negara.
Nurul menilai, momentum ini bisa menjadi pijakan baru dalam strategi MPR mendekatkan empat pilar kepada generasi muda. Ia bahkan berencana mengusulkan lomba riset ilmiah untuk pelajar SMA agar nilai-nilai Pancasila tak berhenti di ruang teori.
“Membaca dan menghafal saja tidak cukup. Harus ada implementasi nilai dalam kehidupan sosial,” tuturnya.
Di tengah kekhawatiran banyak pihak soal pudarnya nasionalisme di kalangan muda, apa yang terjadi di Bandung memberi harapan baru.
Dari ruang lomba itu, terdengar gema keyakinan bahwa Pancasila belum usang hanya perlu diceritakan ulang dengan bahasa yang dimengerti generasi kini.***






