Bandung, BandungOke – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan tampak bersemangat memamerkan wajah “baru” Bandung sebagai kota investasi.
Dari sektor pendidikan tinggi hingga pariwisata, semuanya terdengar menjanjikan. Namun di balik narasi optimistis itu, pertanyaan publik tetap sama siapa yang sebenarnya menikmati investasi ini?
Farhan memamerkan sederet nama besar seperti ITB, Unpad, UPI, dan kampus internasional Deakin serta Lancaster yang kini beroperasi di Bandung.
Ia menyebut, potensi pendidikan dapat menjadi motor investasi baru. Tapi publik justru menyorot fakta bahwa biaya hidup di Bandung kian melonjak, sementara infrastruktur kota drainase, jalan lingkungan, dan pengelolaan sampah masih tertinggal jauh.
“Kalau orientasinya hanya menarik investor, mahasiswa luar kota bisa jadi konsumen, bukan warga yang berdaya,” ujar salah satu dosen di kawasan Dago yang enggan disebutkan namanya.
Bandung memang punya sejarah akademik panjang. Namun banyak akademisi menilai Pemkot gagal menjembatani dunia pendidikan dengan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, sektor fesyen yang disebut-sebut sebagai daya tarik kota justru makin didominasi mal besar dan kapital swasta.
Narasi “Bandung sebagai kota investasi global” tampak indah di atas kertas. Tapi di lapangan, banyak warga justru bertanya: kapan Pemkot bicara soal kebutuhan dasar warga — bukan hanya investor asing yang ingin membuka cabang kampus?






