Bandung, BandungOke – Upaya menata kembali wajah Stasiun Cipeundeuy, Kabupaten Subang, bergerak pelan namun pasti. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung meresmikan area kios khusus bagi para pedagang lokal yang selama ini beroperasi di sekitar stasiun.
Penataan ini bukan sekadar kerja teknis. Ia sekaligus mencerminkan pengakuan bahwa ekonomi warga di sekitar stasiun tak bisa dipinggirkan begitu saja.
Letak kios di sisi timur stasiun dipilih sebagai kompromi ruang penumpang tetap lapang, namun aktivitas jual beli tetap hidup.
“Kami berupaya menata area stasiun agar tetap bersih, tertib, dan nyaman bagi pelanggan. Namun di sisi lain, kami juga memahami keberadaan para pedagang sebagai bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi di sekitar Stasiun Cipeundeuy,” jelas Manager Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menegaskan arah kebijakan perusahaan. Sabtu (8/11/2025)
Selama ini, Cipeundeuy dikenal sebagai stasiun dengan dinamika tinggi. Arus keluar masuk kereta dan penumpang berpadu dengan riuh pedagang yang menggantungkan nafkah di pelataran.
Penataan kios memberi garis batas yang lebih jelas, menghindarkan benturan kepentingan, sekaligus merapikan kawasan yang kerap padat.
Dengan wadah baru itu, para pedagang diarahkan untuk beraktivitas tanpa menghambat sirkulasi penumpang maupun pekerjaan teknis stasiun.
Kolaborasi antara KAI dan Paguyuban Pedagang Cipeundeuy pun dibangun untuk memastikan area tetap bersih, aman, dan layak.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh penataan yang baik antara pengelola stasiun dan masyarakat sekitar, sehingga menciptakan lingkungan yang harmonis, tertib, dan productive,” ujar Kuswardojo.
Penataan Cipeundeuy menjadi sinyal bahwa KAI mulai mengedepankan pendekatan sosial dalam kebijakan internalnya. Selain mengejar efisiensi layanan, perusahaan tampak berusaha menyentuh akar persoalan: menata tanpa memutus sumber penghidupan masyarakat.
Kini, Stasiun Cipeundeuy menata langkah menuju wajah yang lebih ramah. Para pedagang memiliki ruang yang lebih jelas, penumpang mendapat kenyamanan, dan perusahaan menunjukkan empatinya.
KAI berharap praktik ini menjadi model penataan stasiun di daerah lain—di mana ekonomi rakyat dan layanan publik tak harus berhadapan, melainkan berjalan beriringan.






