Bandug, BandungOke – Momentum Hari Pahlawan menjadi pintu refleksi politik kebangsaan dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang digelar di Kota Bandung.
Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, menegaskan pentingnya merawat persatuan di tengah dinamika politik yang semakin kompleks.
Di hadapan peserta sosialisasi, Nurul Arifin mengingatkan bahwa penghormatan pada pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan kesadaran kolektif akan dasar berdirinya bangsa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya,” ujar Nurul Arifin. Sabtu, 22 November 2025.
Menurutnya, nilai perjuangan para pahlawan mengandung pesan kuat tentang persatuan nasional.
“Peringatan Hari Pahlawan mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan Negara,” katanya.
Dinamika Politik dan Ancaman Disintegrasi
Dalam gaya tutur yang reflektif, Nurul menyoroti bahwa kontestasi politik kerap menyisakan potensi friksi sosial.
“Dinamika politik seringkali menjadi bibit permasalahan yang ujungnya dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai perlu ada kesadaran publik yang berkelanjutan, bukan hanya pada momentum tertentu.
“Maka dari itu, perlu adanya kesadaran secara massif dan ingatan terus menerus, bahwa Indonesia lahir dari sebuah pergulatan pemikiran dan perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita semua, dan itu berada dalam fase yang tidak sebentar.” ujarnya.
Warisan Kepahlawanan Bukan Sekadar Simbol
Dalam penekanan historis, Nurul menggambarkan perjuangan para pahlawan sebagai pengorbanan yang tulus, tanpa pamrih popularitas.
Ia menuturkan bahwa para pejuang terus berjuang demi kemerdekaan dan persatuan bangsa ini dan mereka tak pernah berfikir jika kelak di masa depan nama mereka dijadikan simbol kepahlawanan bagi bangsa ini.
“Pusara mereka harum namanya, nama mereka bahkan ada dalam bingkai aksara yang abadi.” tegas Nurul.
Bagi Nurul, nilai kepahlawanan justru harus hidup dalam keseharian masyarakat.
Pesan untuk Generasi Muda
Nurul Arifin mengajak generasi muda untuk memaknai 4 Pilar MPR RI yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai panduan sikap dan perilaku.
“Penting bagi kita generasi muda, generasi penerus perjuangan bangsa untuk selalu menghidupkan semangat kepahlawanan dan persatuan dalam benak, sikap maupun perilaku sehari-hari.” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya harmoni dalam keberagaman. “Mari hidup dalam perbedaan dengan harmonis, karena perbedaan adalah hakikat dan keharmonisan adalah sesuatu yang harus kita usahakan bersama.” tegasnya
Menurutnya, kemajemukan Indonesia bukan ancaman, melainkan kekuatan. “Bangsa kita sangat majemuk dan multikultural. Ini adalah modal utama untuk menjadi kekuatan sekaligus pengikat sebuah komitmen kebangsaan.” ujarnya.
Metafora Ibu dan NKRI
Menutup sosialisasi 4 Pilar MPR RI, Nurul menghadirkan metafora yang puitis tentang sosok pahlawan.
“Pahlawan itu layaknya seorang ibu, yang menginginkan keluarga besarnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rukun, bersatu dan bahu membahu membangun untuk Negeri.” pungkasnya.
Di Bandung, pesan itu terasa aktual karena persatuan bukan hanya kata, melainkan komitmen politik dan kerja kebangsaan yang tidak pernah selesai.***
Editor : Deny Surya






