Bandung, BandungOke – Momentum Hari Pahlawan dimaknai sebagai refleksi kebangsaan. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Kota Bandung.
Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, menegaskan pentingnya merawat persatuan di tengah dinamika politik yang terus bergerak.
Di hadapan peserta sosialisasi 4 Pilar MPR RI tersebut, Nurul Arifin mengingatkan bahwa penghormatan terhadap pahlawan harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap keutuhan bangsa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya,” ujar Nurul Arifin. Minggu (23/11/2025)
Nurul menekankan, peringatan Hari Pahlawan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi pengingat terhadap fondasi persatuan Indonesia.
“Peringatan Hari Pahlawan mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan Negara,” katanya.
Dinamika Politik Perlu Diimbangi Kesadaran Kebangsaan
Nurul menyoroti bahwa kompetisi politik kerap memunculkan potensi perpecahan jika tidak dikelola secara dewasa.
“Dinamika politik seringkali menjadi bibit permasalahan yang ujungnya dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan perlunya kesadaran kolektif yang terus dipelihara.
“Maka dari itu, perlu adanya kesadaran secara massif dan ingatan terus menerus, bahwa Indonesia lahir dari sebuah pergulatan pemikiran dan perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita semua, dan itu berada dalam fase yang tidak sebentar.” tegas Nurul.
Menurutnya, pengorbanan para pahlawan lahir dari ketulusan untuk menjaga keutuhan bangsa.
Para pahlawan “terus berjuang demi kemerdekaan dan persatuan bangsa ini dan mereka tak pernah berfikir jika kelak di masa depan nama mereka dijadikan simbol kepahlawanan bagi bangsa ini.
Pusara mereka harum namanya, nama mereka bahkan ada dalam bingkai aksara yang abadi.”
Pesan kepada Generasi Muda
Nurul Arifin mengajak generasi muda untuk menjadikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman sikap dan perilaku.
“Penting bagi kita generasi muda, generasi penerus perjuangan bangsa untuk selalu menghidupkan semangat kepahlawanan dan persatuan dalam benak, sikap maupun perilaku sehari-hari.”ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberagaman harus dirawat sebagai kekuatan sosial.
“Mari hidup dalam perbedaan dengan harmonis, karena perbedaan adalah hakikat dan keharmonisan adalah sesuatu yang harus kita usahakan bersama.” ujarnya.
“Bangsa kita sangat majemuk dan multikultural. Ini adalah modal utama untuk menjadi kekuatan sekaligus pengikat sebuah komitmen kebangsaan.” imbuhnya.
Persatuan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Menutup kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR , Nurul menyampaikan metafora kepahlawanan sebagai simbol kepedulian kolektif.
“Pahlawan itu layaknya seorang ibu, yang menginginkan keluarga besarnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rukun, bersatu dan bahu membahu membangun untuk Negeri.” pungkasnya.
Dalam Sosialisasi 4 Pilar Kebansaan di Bandung ini, pesan persatuan ditegaskan kembali sebagai tanggung jawab moral — sekaligus pekerjaan kebangsaan yang harus dijaga bersama.***
Editor : Deny Surya






