Bandung, BandungOke.com — Deru senyap hutan Papua dan dentum emosi persaudaraan itu terasa sampai ke XXI Botanical Pasteur, Bandung.
Dalam special screening film Timur, Sabtu sore, (13/12/2025) Iko Uwais tak hanya hadir sebagai bintang laga, tetapi sebagai sutradara yang mengajak penonton masuk ke misi penyelamatan yang getir sekaligus personal.
Film Timur membuka kisahnya dengan penculikan Sandra, seorang peneliti yang bekerja di pedalaman Papua. Peristiwa itu menjadi pemantik operasi senyap pasukan Kopassus, dipimpin Timur yang diperankan Iko Uwais. Seorang prajurit yang dibesarkan oleh disiplin, kehilangan, dan luka lama.
Misi pembebasan sandera bukan sekadar soal strategi tempur, melainkan perjalanan batin yang menyeret masa lalu Timur sendiri.
Di tengah ketegangan operasi militer, Timur justru menemukan nadinya pada persahabatan. Relasi Timur dengan Sila dan Appolo menjadi jangkar emosional film ini. Mereka bukan sekadar rekan satu tim, melainkan saudara yang ditempa oleh medan berat dan pilihan hidup yang tak selalu sejalan.
Dialog singkat, tatapan, dan keputusan-keputusan kecil di bawah tekanan membuat hubungan mereka terasa hidup—tanpa perlu ceramah.

Sebagai debut penyutradaraan, Iko Uwais terlihat menahan diri dari glorifikasi laga. Aksi tetap hadir—rapat, presisi, dan brutal seperlunya—namun selalu memberi ruang bagi emosi. Kamera mengikuti napas para karakter, bukan hanya pukulan.
Penonton Bandung yang memenuhi studio XXI Botanical Pasteur merespons dengan hening panjang di beberapa adegan, lalu tepuk tangan di akhir pemutaran.
“Ini bukan cuma soal menyelamatkan sandera,” kata seorang penonton usai film. “Ini soal bagaimana manusia bertahan dengan persaudaraan.” Reaksi semacam itu menguatkan kesan bahwa Timur bekerja bukan hanya di level adrenalin, tetapi juga empati.
Didukung BNI dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 18 Desember 2025, Timur menandai langkah baru Iko Uwais dari ikon laga ke pencerita yang berani menaruh hati pada detail kemanusiaan.
Di Bandung, film ini bukan sekadar diputar; ia dirayakan sebagai pengalaman.***






