Jakarta, BandungOke – Selama masa Nataru 2025/2026, layanan Kereta Panoramic mencatat 11.819 pelanggan, dengan tingkat okupansi mencapai 120 persen dari 9.576 seat yang disediakan.
Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sinyal transformasi moda kereta api menjadi bagian dari ekosistem pariwisata berbasis pengalaman.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa Kereta Panoramic merepresentasikan perubahan wajah layanan transportasi.
“Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tetapi juga menikmati proses perjalanannya. Ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pariwisata berkualitas dan pergerakan ekonomi daerah melalui konektivitas yang nyaman dan berkelanjutan,” ujar Anne. Kamis (8/1)
Layanan Panoramic hadir pada relasi strategis:
Argo Wilis — Bandung–Surabaya
Turangga — Bandung–Surabaya
Pangandaran — Gambir–Banjar
Papandayan — Gambir–Garut
Parahyangan — Gambir–Bandung
Sebagian besar berada di jalur selatan Jawa — koridor lanskap alam ikonik.
“Sepanjang perjalanan, pelanggan dapat menikmati bentang perbukitan, hamparan persawahan, aliran sungai, jembatan-jembatan ikonik, terowongan bersejarah, hingga panorama alam terbuka melalui kaca lebar Kereta Panoramic. Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri,” jelas Anne.
Efek ikutannya terasa pada:
– hotel & homestay
– kuliner lokal
– UMKM
– industri kreatif daerah
“Kami melihat Kereta Panoramic sebagai pengungkit baru bagi pariwisata daerah. Ketika akses semakin nyaman dan menarik, minat kunjungan meningkat, dan ekonomi lokal ikut bergerak. Inilah bentuk nyata sinergi antara transportasi publik dan agenda pembangunan nasional,” tambah Anne.
Moda kereta juga diposisikan dalam kerangka transportasi rendah karbon.
“KAI terus melakukan evaluasi dan pengembangan layanan berbasis kebutuhan pelanggan… sejalan dengan agenda pemerintah dalam membangun pariwisata dan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Anne.





