JAKARTA, BandungOke — Di tengah kejenuhan horor spiritual dan kisah klenik berulang, film Penunggu Rumah: Buto Ijo memilih jalur berbeda.
Alih-alih mengeksploitasi mitos urban kontemporer, film ini menarik akar cerita dari legenda Timun Mas, dongeng klasik yang lama hidup di ingatan kolektif masyarakat Indonesia.
Film produksi Creator Media bersama Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio, dan Vibe itu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026.
Legenda Timun Mas memang kerap hadir dalam bentuk cerita anak atau pertunjukan tradisional. Namun dalam film ini, sosok Buto Ijo ditarik ke ruang yang lebih gelap dan psikologis. Gandhi Fernando—produser, penulis, sekaligus pemain—menyebut pendekatan ini sebagai upaya menyegarkan horor Indonesia yang cenderung stagnan.
“Kita semua pasti tahu kisah Timun Mas dan Buto Ijo yang legend sekali. Waktu kecil kita membaca atau sekadar didongengkan. Nah film ini mengemas cerita tersebut dalam versi horor modern yang lebih mencekam dan kelam, tapi tetap ruh cerita Timun Mas-nya tidak menghilang,” ujar Gandhi Fernando dikutip Sabtu (10/1)
Disutradarai Achmad Romie, film ini tidak hanya menjual teror visual, tetapi juga konflik domestik. Cerita berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang ibu tunggal yang hidupnya mulai diganggu teror misterius menjelang ulang tahun keenam putrinya. Teror tersebut memaksanya kembali berhubungan dengan Ali (Gandhi Fernando), mantan kekasih yang kini dikenal sebagai konten kreator horor.
Awalnya, kehadiran Ali dan adiknya, Lana (Valerie Thomas), dianggap sebagai bagian dari eksplorasi konten. Namun situasi berubah ketika sosok Buto Ijo muncul bukan sekadar sebagai “bahan uji nyali”, melainkan ancaman nyata yang menggerogoti rumah dan relasi keluarga.
Dalam narasi film ini, Buto Ijo tidak diposisikan hanya sebagai makhluk menyeramkan. Ia hadir sebagai simbol. Dalam tradisi folklor Jawa, Buto Ijo kerap dikaitkan dengan perjanjian dan konsekuensi—makna yang kemudian dieksplorasi lebih jauh oleh Gandhi sebagai penulis.
“Dalam film ini, kami mencoba melihat Buto Ijo bukan hanya sebagai sosok menakutkan, tetapi sebagai simbol dari kesepakatan, janji, dan konsekuensi yang sering diabaikan manusia,” kata Gandhi Fernando.
Pendekatan tersebut menempatkan horor sebagai lapisan, bukan tujuan akhir. Ketakutan dibangun dari relasi yang terasa dekat: keluarga, rahasia masa lalu, dan keputusan yang tak pernah benar-benar selesai. Dengan begitu, film ini mencoba keluar dari formula jump scare semata.
Secara industri, Penunggu Rumah: Buto Ijo memperlihatkan kecenderungan baru perfilman horor Indonesia: menggali folklor sebagai sumber cerita, bukan sekadar latar.
Upaya ini sekaligus menguji sejauh mana penonton siap menerima horor yang lebih simbolik dan reflektif.
Film ini dibintangi Celine Evangelista, Gandhi Fernando, Valerie Thomas, Meryem Hasanah, Adnan Djani, Pratito Wibowo sebagai Buto Ijo, serta Arie Dwi Andhika. Pemutaran spesial dijadwalkan berlangsung pada 10–11 Januari 2026, sebelum tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada 15 Januari 2026.
Di tengah banjir film horor dengan pola seragam, Penunggu Rumah: Buto Ijo mencoba mengingatkan bahwa dongeng lama—jika dibaca ulang—masih menyimpan ruang teror yang relevan dengan kegelisahan masa kini.***






