Bandung, BandungOke – Rencana Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi terminal tipe C dan mengubah angkot menjadi feeder menandai babak baru penataan transportasi kota.
Namun, kebijakan ini menyimpan pertanyaan mendasar: apakah Bandung siap dengan sistem transportasi terintegrasi, atau sekadar memindahkan masalah lama ke wajah baru?
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui kondisi terminal tipe C di Kota Bandung jauh dari ideal. Dari sekitar 14 terminal yang dikelola Pemkot, sebagian besar tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
“Terminal tipe C yang dikelola Pemkot itu ada sekitar 14. Rata-rata kondisinya ya seperti sekarang, termasuk Ujungberung,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, dikutip Rabu (14/1)
Alih-alih mempertahankan terminal yang mati suri, Pemkot memilih mengubah peran angkot dari moda utama menjadi feeder—pengumpan menuju simpul transportasi yang lebih besar.
Model ini diklaim meniru praktik di wilayah penyangga. “Kita akan mengubah konsep angkot menjadi feeder. Ini sudah dicontohkan di wilayah subprovinsi dan akan kita adopsi di seluruh Kota Bandung,” kata Farhan.
Namun, perubahan konsep tanpa kesiapan infrastruktur berisiko melahirkan transportasi setengah jalan. Saat ini, banyak terminal tipe C hanya dilewati angkot tanpa fungsi naik-turun penumpang yang jelas.
“Sekarang terminal itu kebanyakan cuma dilewati saja. Jadi kita dalami dulu, kalau fungsinya memang tidak ada, akan kita alihkan,” ujarnya.
Pengalihan fungsi terminal—bahkan menjadi fasilitas pengolahan sampah seperti di Ciwastra—menunjukkan betapa terminal kehilangan relevansi dalam sistem transportasi kota.
Di Ujungberung, terminal bahkan telah berubah menjadi kios pasar dan ojek pangkalan.
“Di Ujungberung sekarang jadi kios pasar dan ojek pangkalan. Artinya memang kita harus melakukan revitalisasi angkot,” ujar Farhan.
Kebijakan ini membuka dilema klasik kota besar: apakah revitalisasi berarti perbaikan fungsi, atau sekadar penghapusan simbol kegagalan lama?
Tanpa integrasi jadwal, rute, dan jaminan keberlanjutan bagi sopir angkot, konsep feeder berpotensi menjadi jargon kebijakan tanpa dampak struktural.
“Konsep utamanya angkot sebagai feeder. Itu yang paling penting,” kata Farhan.
Pertanyaannya, siapa yang menjamin feeder ini benar-benar sampai ke tujuan?***





