Cimahi, BandungOke – Di tengah arus digital yang kian deras dan tekanan sosial-ekonomi yang nyata, SMA Negeri 6 Kota Cimahi memilih bertahan pada fondasi lama yang diperkuat dengan pendekatan baru yakni pendidikan karakter Pancawaluya : cageur, bageur, bener, pinter, singer.
Kepala SMAN 6 Kota Cimahi, Susanto S.Pd mengatakan mayoritas siswa SMAN 6 Cimahi berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Kondisi ini, ujarnya membentuk orientasi realistis dibanyak siswa semula ingin segera bekerja selepas lulus. Tantangan itu tak dihindari, melainkan dihadapi dengan edukasi yang membumi.
“Kami tidak memaksakan semua anak harus kuliah. Tapi kami membuka wawasan bahwa kuliah itu bisa fleksibel. Ada Universitas Terbuka, ada kelas karyawan. Yang penting anak-anak punya karakter kuat dan percaya diri,” ujar Susanto kepada wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pendidikan (FWP) Jabar. Rabu (14/1)
Menurut Susanto, program Gapura Pancawaluya bukan sekadar slogan moral, melainkan kerangka hidup yang diterjemahkan dalam keseharian siswa.
Cageur dimaknai sebagai kesehatan fisik dan mental, bageur sebagai sikap sosial, bener sebagai integritas, pinter sebagai kecakapan akademik, dan singer sebagai kreativitas serta kepekaan zaman.
Untuk merealisasikannya, SMAN 6 Cimahi mulai dari hal-hal sederhana seperti Jumat Bersih, olahraga bersama, dan literasi pagi. Setiap siswa yang membaca buku diberi ruang untuk mempresentasikan isinya di depan kelas.
Bagi Susanto, keberanian berbicara dan kebiasaan membaca adalah fondasi karakter yang sering diabaikan.
“Karakter itu bukan ceramah. Ia tumbuh dari pembiasaan. Dari berani bicara, berani salah, dan mau belajar,” tegasnya.
Dengan terobosan tersebut, tegas Susanto, saat ini tren positif mulai terlihat. Jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi meningkat, demikian pula rasa percaya diri siswa.
“Tentunya hal ini bisa berjalan dengan baik dengan adanya sinergitas antara Sekolah Orang Tua dan Lingkungan,” katanya.
Bagi SMAN 6 Cimahi, pendidikan karakter bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi bertahan menghadapi masa depan.***






