Bandung, BandungOke — Bagi banyak orang tua perkotaan, mencari ruang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan berekspresi kian menjadi tantangan.
Keterbatasan ruang terbuka, ritme kota yang cepat, serta dominasi gawai membuat aktivitas sederhana seperti mewarnai kini terasa istimewa.
Di 23 Paskal Shopping Center Bandung, ratusan anak duduk berkelompok, memegang kuas cat air, dan tenggelam dalam warna sementara orang tua mengamati dari kejauhan.
Aktivitas itu merupakan bagian dari Workshop Mewarnai & Kreasi Anak dalam gelaran Bandung Starts Here, event komunitas tahunan perdana yang berlangsung 19–25 Januari 2026.
Anak – anak sangat antusias terlibat dalam kegiatan kreatif yang digelar bersama komunitas Redmiller Blood & Re-Exp.
Bagi keluarga urban, kegiatan semacam ini bukan sekadar hiburan karena mewarnai di ruang publik mempertemukan kebutuhan anak untuk berekspresi dengan kebutuhan orang tua akan lingkungan yang aman, terkurasi, dan mudah dijangkau.
Anak-anak belajar fokus, mengenal warna, dan berinteraksi sosial, sementara orang tua mendapatkan alternatif aktivitas non-digital di tengah kota.
Fenomena ini menandai pergeseran pola urban parenting. Mal tak lagi hanya menjadi ruang konsumsi keluarga, tetapi juga ruang pengasuhan kolektif—tempat anak belajar dan orang tua berbagi nilai tentang kreativitas, kebersamaan, dan keberanian berekspresi.
“Bandung Starts Here (BSH) adalah awal dari komitmen kami. 23 Paskal bukan hanya pusat perbelanjaan, tetapi rumah baru bagi komunitas—tempat berkumpul, berkreasi, dan saling mengapresiasi,” ujar Indra Pratama Wicaksono, Campaign, Experience & CRM Manager 23 Paskal. Selasa (20/1)

Event ini, kata Indra, akan diselenggarakan setiap tahun sebagai bentuk dukungan berkelanjutan untuk komunitas.
Selain workshop anak, Bandung Starts Here juga menghadirkan pameran seni komunitas, pertemuan pastry kreatif, hingga Bandung Bernyanyi.
Namun kehadiran anak-anak justru memberi makna lain: kota yang ramah keluarga adalah kota yang menyediakan ruang belajar sejak usia dini, bahkan di tempat yang tak terduga.
Dengan membuka akses bagi komunitas dari seluruh Jawa Barat, 23 Paskal mencoba menjembatani kebutuhan keluarga urban—menghadirkan ruang publik yang inklusif, aman, dan relevan dengan dinamika kota.
Di ruang semacam inilah, pengasuhan anak tidak lagi berlangsung secara privat, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kota kreatif.***






