Bandung, BandungOke – Perubahan kepemimpinan di SMAN 9 Bandung pada awal tahun ini tak sekadar soal pergantian struktur.
Di baliknya, sekolah yang berada di lingkungan Lanud Husein Sastranegara itu tengah merapikan ulang arah pendidikan dengan menyatukan karakter, prestasi, dan kepedulian lingkungan sebagai fondasi utama pembentukan siswa.
Kepala SMAN 9 Bandung, Agus Hasan Sadzili, menyebut vis besar sekolah dirumuskan dalam satu frasa yakni Generasi Istimewa dan Rancage.
Istimewa, kata dia, bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan sosial.
“Kami ingin membentuk generasi yang istimewa dan rancage. Cerdas secara akademik, berprestasi secara non-akademik, punya karakter kuat, dan sadar lingkungan,” kata Agus Hasan Sadzili kepada wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pendidikan (FWP) Jabar Rabu (21/1)

Visi itu, kata Agus, diterjemahkan ke dalam program kerja yang menyentuh aktivitas harian siswa. SMAN 9 Bandung mengembangkan program ekstrakurikuler tematik harian, yang menjadi pembiasaan karakter sejak pagi hari.
Setiap Senin, siswa mengikuti upacara atau apel pagi untuk menanamkan nasionalisme. Selasa diisi Selasih—Selasa Bebersih—yang menekankan kepedulian pada lingkungan sekolah. Rabu difokuskan pada kebugaran melalui olahraga dan Senam Anak Indonesia Hebat. Kamis diarahkan pada penguatan literasi, sementara Jumat menjadi ruang sarasehan religius yang inklusif bagi seluruh siswa lintas keyakinan.
Menurut Agus, pola ini sengaja dirancang agar sekolah tidak hanya menjadi ruang belajar kognitif.
“Sekolah harus menjadi ekosistem. Nilai karakter tidak cukup diajarkan, tapi harus dibiasakan setiap hari,” ujarnya.
Menguatkan Prestasi Non-Akademik dan Ikon Basket
Di bidang kesiswaan, SMAN 9 Bandung juga tengah mengembalikan identitas lamanya sebagai sekolah dengan prestasi non-akademik yang kuat.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Tanu Patrayana, menegaskan bahwa penguatan brand sekolah menjadi fokus utama.
“Kami ingin mengangkat kembali nama besar SMAN 9 Bandung, bukan hanya di akademik, tapi juga sangat kuat di non-akademik,” ujar Tanu Patrayana.
Olahraga bola basket kembali dikukuhkan sebagai ikon utama sekolah. Namun, menurut Tanu, fokus prestasi tidak berhenti di satu cabang.
“Selain basket, kami dorong siswa aktif di OSN, O2SN, dan FLS2N, baik sains, olahraga, maupun seni. Prestasi harus beragam agar semua potensi siswa punya ruang,” katanya.
Di sisi lingkungan, kata Tanu, SMAN 9 Bandung menjalankan program program penghijauan dan kebijakan zero waste.
“Siswa diwajibkan membawa tumbler dan tempat makan sendiri untuk menekan sampah plastik.” Katanya.
Sementara itu, bidang humas juga menggulirkan gerakan “Rereongan Sapoe Sarebu”, yang menjadi ruang solidaritas bagi siswa dan keluarga besar sekolah.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat saling menjaga,” ujar Agus.
Dengan pendekatan yang memadukan disiplin, prestasi, dan empati sosial, SMAN 9 Bandung berupaya menegaskan diri sebagai sekolah negeri yang tidak sekadar mencetak lulusan berijazah, tetapi generasi yang siap hidup di tengah masyarakat.***






