Bandung, BandungOke – Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri kerap berhenti di seremoni. Namun kolaborasi PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) dengan Fakultas Teknik Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung (ITB) berusaha melampaui itu dengan membawa praktik logistik langsung ke ruang belajar.
Berlokasi di Laboratorium Logistik FTI ITB, Bandung, Senin, 26 Januari 2026, SPIL meresmikan kolaborasi pendidikan dan riset dengan menyerahkan empat unit maket kapal sebagai media pembelajaran.
Miniatur kapal itu bukan sekadar pajangan, melainkan alat simulasi operasional logistik yang dirancang mendekati kondisi industri sesungguhnya.
Melalui perangkat tersebut, mahasiswa dapat menjalankan SPIL Game sebuah simulasi alur logistik dari pemuatan kontainer di kapal, proses bongkar muat, penempatan di lapangan penumpukan, hingga pengambilan keputusan dalam rantai pasok.
Pendekatan ini diharapkan mempersempit jarak antara teori logistik di kelas dan kompleksitas operasional di lapangan.
Dekan Fakultas Teknik Industri ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, S.T., M.Eng., Ph.D., menilai kolaborasi ini sebagai praktik nyata link and match pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri.
“Kehadiran SPIL di Laboratorium Logistik kami akan memberikan akses bagi mahasiswa dan peneliti untuk berinteraksi langsung dengan data dan kasus riil di lapangan. Kami berharap kolaborasi ini menghasilkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga aplikatif bagi industri logistik nasional,” ujar Tirto. Senin (26/1)
Selain hibah maket kapal, kerja sama ini dibangun di atas empat pilar utama yakni optimasi logistik berbasis rekayasa industri, riset kecerdasan buatan (AI) untuk pengambilan keputusan, riset kolaboratif dosen–praktisi, serta pengembangan talenta melalui program magang berbasis proyek nyata.
Dari sisi industri, SPIL melihat dunia pendidikan sebagai mitra strategis jangka panjang.

General Manager Human Capital & Corporate Affairs PT SPIL, Dominikus Putranda Romo Ganggut, menegaskan bahwa sektor logistik membutuhkan SDM yang sejak awal terbiasa dengan persoalan riil.
“ITB memiliki reputasi luar biasa dalam pengembangan teknologi dan efisiensi industri. Melalui program ini, SPIL berkomitmen untuk terus mendukung ekosistem riset yang mampu melahirkan solusi-solusi disruptif, sekaligus mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan di sektor logistik,” kata Dominikus.
Ia juga menyinggung daya tahan sektor logistik nasional yang terbukti tetap bergerak di tengah pandemi COVID-19.
Dengan jaringan yang menghubungkan 38 pelabuhan di Indonesia, SPIL memastikan distribusi kebutuhan pokok dan bahan baku industri dari Jawa hingga Papua tetap berjalan.
“Logistik tidak pernah benar-benar berhenti karena menjadi tulang punggung ekonomi,” ujarnya.
Kolaborasi ini menegaskan posisi SPIL sebagai perusahaan pelayaran dan logistik yang memilih terlibat langsung dalam pembentukan ekosistem pengetahuan.
Sementara bagi ITB, kehadiran industri di laboratorium membuka ruang riset yang lebih kontekstual—bukan sekadar studi kasus di atas kertas.***






