Jakarta, BandungOke – Curah hujan ekstrem yang melanda sejumlah wilayah pada akhir Januari 2026 menjadi ujian ketahanan infrastruktur transportasi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) memilih memperkuat pendekatan mitigasi risiko untuk menjaga keselamatan dan keandalan layanan kereta api nasional.
Melalui skema Manajemen Alat Material Untuk Siaga (AMUS), KAI menyiagakan sumber daya manusia, peralatan, dan sistem komando terpadu agar potensi gangguan operasional akibat banjir dan cuaca ekstrem dapat ditangani cepat dan terukur.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, keselamatan perjalanan menjadi prioritas utama perusahaan di tengah dinamika iklim yang semakin tidak menentu.
“KAI terus melakukan langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem, khususnya yang berisiko menimbulkan banjir di jalur kereta api. Keselamatan perjalanan menjadi prioritas utama kami, dan seluruh jajaran di lapangan telah disiagakan untuk merespons setiap potensi gangguan secara cepat dan terukur,” ujar Anne dalam keterangan persnya, Jumat (30/1)
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, KAI menurunkan 355 tenaga ekstra, 861 Petugas Jaga Lintasan (PJL) tambahan, serta petugas penjaga daerah rawan yang ditempatkan di titik-titik dengan tingkat risiko tinggi. Seluruh personel bekerja dalam sistem siaga 24 jam dengan pembagian tiga shift.
“Para petugas ini bekerja dengan sistem siaga 24 jam dan terbagi dalam tiga shift, sehingga pengawasan terhadap kondisi jalur rel dapat dilakukan secara kontinu, baik siang maupun malam,” kata Anne.
Dari sisi prasarana, AMUS dirancang berbasis pre-positioning, yakni penempatan alat dan material di lokasi rawan sebelum gangguan terjadi.
Sistem ini mencakup kesiapan alat berat dan mesin pemeliharaan jalur, ketersediaan material darurat seperti batu balas dan bantalan rel, sarana angkut khusus, serta koordinasi personel terintegrasi antara pusat dan wilayah.
Menurut Anne, pendekatan ini mengubah pola penanganan gangguan dari reaktif menjadi preventif.
“Melalui AMUS, setiap potensi gangguan sudah dipetakan, lengkap dengan skenario penanganannya. Ini membuat respons di lapangan lebih cepat, lebih terkoordinasi, dan lebih aman bagi perjalanan kereta api,” ujarnya.
KAI juga rutin memantau prakiraan cuaca dari instansi terkait serta melakukan inspeksi intensif di titik rawan banjir, genangan, dan pergerakan tanah. Langkah dini ini dinilai penting untuk menekan potensi gangguan yang dapat berdampak pada ketepatan waktu dan keselamatan perjalanan.
Anne menegaskan, kesiapsiagaan operasional merupakan bagian dari komitmen KAI menjaga kepercayaan publik terhadap transportasi berbasis rel di tengah tantangan perubahan iklim.
“Kami ingin masyarakat tetap bisa bepergian dengan tenang. Di balik setiap perjalanan yang lancar, ada ratusan Insan KAI yang siaga 24 jam di lapangan. AMUS adalah bukti bahwa KAI selalu siap, bahkan ketika cuaca sedang tidak bersahabat,” tutup Anne.***





