Bandung, BandungOke – Pertumbuhan kawasan urban di Bandung Barat mulai menemukan simpul barunya.
Stasiun Gadobangkong, yang bangunan barunya dioperasikan sejak 1 Februari 2026, langsung mencatat lonjakan pengguna pada pekan pertama operasional.
Dalam periode 1–8 Februari 2026, sebanyak 7.016 penumpang tercatat naik dari stasiun yang berada di Kecamatan Ngamprah itu.
Angka tersebut meningkat 19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini mencerminkan tingginya mobilitas warga urban yang setiap hari bergerak menuju pusat pemerintahan dan ekonomi di Kota Bandung.
Secara geografis, Gadobangkong berada di jantung administrasi Kabupaten Bandung Barat—dekat pusat pemerintahan dan kawasan perkantoran.
Data Badan Pusat Statistik 2025 mencatat lebih dari 5.300 Aparatur Sipil Negara bekerja di wilayah ini, menjadi basis komuter harian yang signifikan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan peningkatan layanan dilakukan sebagai respons atas kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Masukan masyarakat di wilayah barat telah kami petakan secara menyeluruh,” kata Karina dalam keterangan persnya. Selasa (10/2/2026)
Karina menegaskan, KAI Commuter meresponsnya melalui peningkatan layanan yang dilakukan secara bertahap, sejalan dengan penguatan infrastruktur agar operasional berjalan tertib, aman, dan berkelanjutan.
Tren kenaikan juga terlihat pada kinerja Commuter Line Bandung Raya secara keseluruhan.
Sepanjang Januari 2026, jumlah pengguna mencapai 999.725 orang atau naik 11 persen dibanding Januari 2025.
Penyesuaian jadwal turut mendorong lonjakan penumpang, termasuk perpanjangan relasi KA 398 menjadi Padalarang–Cicalengka.
“Perpanjangan relasi KA 398 Commuter Line Bandung Raya menjadi KA 398A semula melayani rute Padalarang – Kiaracondong, kini berubah menjadi rute yang lebih panjang yaitu Padalarang – Cicalengka,” ujar Karina.
Bagi kaum urban Bandung Raya, penguatan simpul seperti Gadobangkong bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan strategi menopang ritme ekonomi harian kota besar yang makin bergantung pada transportasi massal terintegrasi.***





