Bandung, BandungOke – Pemerintah Kota Bandung dalam setahun terakhir agresif membangun citra sebagai “kota ternyaman untuk pelari”.
Dari Bandung 10K, Pocari Sweat Run 2025, Soekarno Run, QRIS Run, hingga Tahura Trail Run 2026, agenda lari digelar hampir tanpa jeda.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan terang-terangan menjadikan sport tourism sebagai strategi ekonomi.
“Sport tourism sangat kami sambut dengan bahagia. Kami terbuka jika ada event lari di sini,” ujarnya.
Targetnya jelas yakni okupansi hotel naik, UMKM fesyen dan kuliner bergerak.
Data partisipasi memang impresif. Pocari Sweat Run menghadirkan 16.000 pelari langsung di Bandung dan lebih dari 30 ribu virtual.
Kemudian, tahura Trail Run diikuti 2.883 peserta. Secara kasat mata, hotel penuh dan kawasan pusat kota hidup.
Namun pertanyaannya adalah, apakah efeknya berkelanjutan atau musiman?
Farhan mengklaim city branding sebagai kota pelari akan memperkuat ekonomi kreatif.
“Ini bagian dari city branding. Saya ingin mengklaim Bandung sebagai kota paling nyaman untuk pelari,” katanya.
Bagi kaum urban kelas menengah, event lari menjadi gaya hidup baru. Tetapi dampaknya bagi warga sekitar rute lomba?
Kemacetan, rekayasa lalu lintas, dan biaya sosial kerap luput dari hitung-hitungan promosi.
Bandung memang diuntungkan secara citra dan perputaran uang jangka pendek.
Tetapi tanpa perencanaan transportasi, tata ruang, dan manajemen lingkungan yang matang, sport tourism berisiko menjadi pesta sesaat.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Bandung nyaman untuk pelari, melainkan apakah strategi ini mampu menjadi mesin ekonomi yang adil bagi seluruh warga kota.***





