Bandung, BandungOke – Diskursus soal organizational streamlining kerap terjebak pada isu efisiensi dan pengurangan tenaga kerja.
Namun dalam HCM Talks ke-5, narasi itu dipatahkan. Panel diskusi menegaskan bahwa inti perampingan organisasi justru terletak pada pergeseran strategic mindset—bukan sekadar restrukturisasi angka.
Forum bertajuk “Navigating the Future of Human Capital: Business and Organizational Streamlining through Lean HR and People Analytics” ini menghadirkan Dr. Ir. Yuni Ros Bangun dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, M.
Selain itu hadir juga Fahmi El Mubarak dari BUMN School of Excellence, serta Sari Indah Damayanti, Executive Vice President Human Capital Strategy PT PLN (Persero).
Yuni memotret persoalan dari hulu: produktivitas tenaga kerja Indonesia yang rata-rata masih 2,6 persen dan tertinggal dari sejumlah negara Asia Tenggara.
Bagi dia, transformasi organisasi tak terhindarkan. Namun solusi instan berupa pengurangan tenaga kerja dinilai keliru arah.
“Streamlining seharusnya diarahkan pada pembangunan high performance culture melalui ketepatan finansial dan pendekatan yang berpusat pada manusia. HR perlu diposisikan secara strategis untuk mendorong upskilling, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi pemanfaatan talenta,” ujarnya.
Di level praktik, PLN menggeser pendekatan dari decentralized human capital (2021–2025) menuju centralized human capital berbasis produktivitas.
“Sebelumnya, kami masih menerapkan pendekatan human capital yang tradisional. Kini, kami beralih ke future human capital yang berorientasi pada pengembangan kapabilitas dan penciptaan nilai,” kata Sari.
Transformasi ini ditopang people analytics, otomatisasi, dan kecerdasan buatan.
Fahmi menambahkan, perdebatan istilah—human capital, people and culture, atau human experience—bukan isu utama.
“Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita benar-benar memperlakukan manusia sebagai penggerak utama kinerja, bukan sekadar fungsi personalia.”
Benang merahnya, streamlining bukan agenda pemangkasan, melainkan reposisi strategis manusia sebagai motor daya saing organisasi.***






