Bandung, BandungOke – Menjelang periode Angkutan Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mempertegas fokusnya pada aspek keselamatan perjalanan.
Di tengah potensi lonjakan mobilitas masyarakat, perusahaan pelat merah ini memilih pendekatan preventif melalui intensifikasi sosialisasi di titik-titik rawan perlintasan sebidang.
Selasa, 3 Maret 2026, jajaran KAI Daop 2 Bandung turun langsung ke perlintasan sebidang JPL 165A, Jalan Laswi, Kota Bandung.
Kegiatan tersebut dipimpin Executive Vice President Daop 2 Bandung, Hendra Wahyono, bersama manajemen serta komunitas pecinta kereta api di wilayah operasional Daop 2.
Langkah ini bukan sekadar seremoni. Pada musim Lebaran, frekuensi perjalanan kereta meningkat signifikan, seiring pertumbuhan jumlah penumpang.
Artinya, risiko di perlintasan sebidang juga ikut terkerek apabila disiplin pengguna jalan tak terjaga.
“Kami ingin memastikan seluruh perjalanan kereta api berjalan dengan selamat dan tepat waktu. Keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab KAI, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat, khususnya pengguna jalan di perlintasan sebidang,” ujar Hendra Wahyono.
Kolaborasi dengan Railfans
Dalam sosialisasi tersebut, KAI menggandeng sejumlah komunitas seperti Railfans Cimahi, Railfans Cianjur, Garut Railfans, Kereta Anak Bangsa, hingga Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).
Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan partisipatif yang mulai diadopsi perusahaan transportasi publik untuk membangun budaya keselamatan berbasis komunitas.
Petugas bersama railfans mengedukasi pengendara roda dua dan roda empat agar mematuhi sinyal, tidak menerobos palang pintu, serta berhenti dan memastikan kondisi aman sebelum melintas.
KAI juga mengingatkan bahwa perjalanan kereta api wajib didahulukan sesuai regulasi perkeretaapian.
Secara ekonomi operasional, setiap insiden di perlintasan tidak hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga mengganggu ketepatan waktu, meningkatkan biaya operasional, dan berpotensi merugikan ribuan penumpang dalam satu rangkaian perjalanan.

Jalur Rel Bukan Ruang Publik
Selain fokus di perlintasan, KAI Daop 2 Bandung menyoroti meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar jalur rel, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Fenomena berjalan di atas rel, berfoto, hingga ngabuburit di area jalur dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan perjalanan.
Manajemen menegaskan bahwa jalur rel adalah area terbatas untuk operasional kereta api. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi pidana maupun denda sesuai Undang-Undang Perkeretaapian.
Bagi KAI, pendekatan edukatif dinilai lebih efektif ketimbang penindakan semata. Karena itu, sosialisasi rutin juga dilakukan ke sekolah-sekolah dan permukiman di sekitar jalur rel dengan melibatkan pemangku kepentingan setempat.
Strategi Mitigasi Risiko Angkutan Lebaran
Momentum Angkutan Lebaran selalu menjadi ujian kapasitas dan manajemen risiko bagi operator transportasi.
Dengan tren peningkatan mobilitas tahunan, mitigasi risiko di titik kritis seperti perlintasan sebidang menjadi bagian dari strategi menjaga reliabilitas layanan.
KAI Daop 2 Bandung menyatakan akan terus memperkuat edukasi publik sebagai bagian dari pelayanan maksimal kepada pelanggan.
Sinergi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan sekaligus menjaga kelancaran arus perjalanan selama musim mudik.
Jika disiplin publik terjaga, Angkutan Lebaran 2026 bukan hanya soal kapasitas angkut, melainkan juga tentang keberhasilan menjaga keselamatan sebagai fondasi utama industri transportasi rel.***






