Bandung, BandungOke – Isu lonjakan harga beras dan kekhawatiran pasokan selama Ramadan mulai beredar di sejumlah daerah di Jawa Barat.
Namun Perum Bulog memastikan cadangan beras pemerintah di wilayah ini masih sangat aman.
Hingga awal Maret 2026, stok beras yang dikuasai Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat mencapai 592.795 ton setara beras.
Jumlah itu dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat meski terjadi lonjakan permintaan.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Barat Nurman Susilo meminta masyarakat tidak terpancing isu yang mendorong aksi panic buying.
“Saat ini stok beras kami 592.795 ton setara beras, jadi tidak ada masalah. Bulog menjamin kebutuhan beras tersedia di masyarakat walau ada lonjakan permintaan yang tiba-tiba,” kata Nurman Susilo saat dimintai keterangan, Senin (9/3/2026).
Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, Bulog menyiapkan berbagai instrumen intervensi pasar, mulai dari Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penyaluran bantuan pangan, Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga pasar murah yang digelar secara rutin di berbagai daerah.
Ramadan Tak Mengendurkan Serapan Gabah
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan saat Ramadan, Bulog justru mempercepat penyerapan gabah petani.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sekaligus menjaga harga gabah di tingkat petani.
Pemerintah menetapkan target pengadaan gabah nasional pada 2026 sebesar 4 juta ton. Dari jumlah tersebut, Bulog Jawa Barat mendapat target 694.432 ton setara beras.
Nurman menegaskan Ramadan tidak menjadi alasan untuk menurunkan intensitas pengadaan.
“Bulan suci Ramadan tidak mengurangi intensitas Perum BULOG Kanwil Jabar dalam melaksanakan pengadaan gabah. Kami akan melakukan serapan gabah sebanyak mungkin dan seoptimal mungkin,” ujarnya.
Bulog membeli gabah kering panen (GKP) seharga Rp6.500 per kilogram di tingkat petani, sesuai kebijakan pemerintah.
Serapan Melonjak Dibanding Tahun Lalu
Hingga 8 Maret 2026, realisasi pengadaan Bulog Jabar telah mencapai 125.910 ton setara beras atau sekitar 18,13 persen dari target tahun ini.
Angka tersebut melonjak jauh dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Sebagai perbandingan, pada 9 Maret 2025 pengadaan baru mencapai 32.086 ton setara beras, namun pada akhir tahun tetap berhasil mencapai target yang ditetapkan perusahaan,” kata Nurman.
Menurut dia, peningkatan serapan tersebut merupakan hasil sinergi banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, mitra penggilingan hingga kelompok tani di Jawa Barat.
Bulog juga telah menginstruksikan seluruh kantor cabang di wilayah Jawa Barat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan permintaan beras selama Ramadan hingga menjelang IdulFitri.
“Kami akan menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk menjamin ketersediaan pangan tersebut,” pungkas Nurman.***





