Bandung, BandungOke -Harapan masyarakat Bandung untuk kembali mengunjungi Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo pada libur Lebaran tahun ini tampaknya harus kembali tertunda. Pemerintah Kota Bandung memastikan objek wisata yang selama puluhan tahun menjadi salah satu destinasi keluarga itu belum dapat beroperasi.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui hingga saat ini kebun binatang tersebut masih terkendala izin operasional setelah pencabutan izin lembaga konservasi yang sebelumnya dipegang oleh Yayasan Margasatwa Tamansari.
Pencabutan izin oleh Kementerian Kehutanan membuat pengelolaan kawasan konservasi tersebut belum memiliki dasar hukum untuk kembali membuka layanan bagi publik.
Farhan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena harapan membuka kembali Bandung Zoo pada momentum libur Lebaran belum dapat diwujudkan.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat permasalahan ini bisa diselesaikan sehingga Kebun Binatang Bandung dapat kembali beroperasi,” ujarnya saat kegiatan safari Ramadan di Masjid Agung Bandung, di kutip Jum’at 13 Maret 2026.
Penutupan Bandung Zoo pada masa libur Lebaran tentu menjadi kehilangan tersendiri bagi sektor pariwisata kota. Selama ini, kebun binatang tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi rekreasi keluarga yang relatif terjangkau dan mudah diakses warga.
Namun persoalan izin konservasi membuat pembukaan kembali kawasan tersebut tidak bisa dilakukan secara tergesa. Status pengelolaan satwa serta tata kelola lembaga konservasi harus lebih dahulu dipastikan sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat.
Di tengah persoalan Bandung Zoo yang belum selesai, Pemerintah Kota Bandung juga mengambil langkah penataan terhadap sejumlah tempat hiburan di kota tersebut.
Beberapa tempat hiburan sementara dihentikan operasionalnya selama satu minggu menjelang masa libur Lebaran.
Menurut Farhan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penataan agar aktivitas hiburan di Kota Bandung dapat berjalan lebih tertib setelah masa libur Lebaran.
“Kami harapkan setelah masa libur Lebaran nanti, tempat-tempat hiburan tersebut bisa kembali beroperasi dengan baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Farhan juga menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah kota selama beberapa bulan masa kepemimpinannya.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan program pembangunan di Kota Bandung. Namun berbagai persoalan, menurutnya, dapat diatasi melalui komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.
“Saya banyak melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, karena banyak isu di Kota Bandung yang berkaitan dengan kebijakan di tingkat nasional. Alhamdulillah berbagai persoalan bisa kita tangani dengan baik,” katanya.
Farhan juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kewilayahan mulai dari kecamatan, kelurahan hingga para ketua RT dan RW yang dinilai berperan penting dalam menjalankan berbagai program pemerintah kota.
Ia menegaskan sejumlah kebijakan yang saat ini berjalan juga lahir dari masukan masyarakat yang disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi.
“Banyak program yang kita jalankan bukan sepenuhnya berasal dari ide saya pribadi. Banyak masukan dari masyarakat melalui berbagai media dan dalam waktu yang relatif singkat beberapa di antaranya sudah bisa kita adopsi dan kembangkan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah kota akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara bertahap.
“Tentu masih ada kelemahan dan kekurangan. Namun insyaallah kita akan terus memperbaikinya bersama,” tambahnya.
Bagi warga Bandung, ketidakpastian nasib Bandung Zoo pada musim libur Lebaran ini menjadi pengingat bahwa persoalan tata kelola lembaga konservasi tidak sekadar soal destinasi wisata, tetapi juga menyangkut regulasi, pengelolaan satwa, serta koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Editor : Deny Surya





