BandungOKE
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!Baru
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Cahaya Surya di Hutan Rongga, Kisah Fatimah dan Listrik Mandiri dari UPI

Denny Surya
16 Maret 2026 - 23:05
Cahaya Surya di Hutan Rongga, Kisah Fatimah dan Listrik Mandiri dari UPI



“Bagi banyak orang di kota, lampu listrik adalah hal biasa. Tapi bagi keluarga Fatimah, cahaya kecil itu terasa seperti keajaiban.”

 

RelatedPosts

QS WUR 2026: UPI Peringkat 101–150 Dunia Education Training

Unpad Berduka, Guru Besar Kedokteran Prof Rachmat Soelaeman Wafat

Pendaftaran UTBK SNBT 2026 Dibuka Rabu Sore, Rebutan Kursi PTN Makin Sengit

Bandung Barat, BandungOke — Senja turun pelan di Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga. Bayangan hutan pinus memanjang di lereng perbukitan, dan udara mulai terasa dingin.

Bagi sebagian warga di desa ini, senja dulu selalu berarti satu hal: malam panjang tanpa listrik.

Rumah panggung milik Fatimah berdiri di tengah sunyi hutan pinus itu. Ukurannya kecil, sekitar empat kali empat meter, berdinding bilik bambu dengan lantai papan kayu yang mulai menua.

Selama lebih dari lima belas tahun, rumah itu tidak pernah mengenal lampu listrik.

Ketika malam datang, satu-satunya cahaya berasal dari lampu damar atau lilin.

“Kalau malam biasanya pakai damar atau lilin. Belajar juga paling siang saja,” kata Fatimah.

Lampu damar hanya memberi cahaya redup. Tidak cukup terang untuk membaca buku lama-lama. Anak-anaknya sering berhenti belajar ketika malam tiba.

Kini keadaan berubah.

Setiap malam, sebuah lampu kecil menyala di ruang keluarga rumah itu. Cahaya putih lembut menerangi meja kecil tempat anak-anaknya membuka buku.

Cahaya itu berasal dari panel listrik tenaga surya yang dipasang melalui program bantuan Universitas Pendidikan Indonesia.

“Alhamdulillah sekarang ada penerangan. Anak-anak bisa belajar malam hari,” kata Fatimah sambil tersenyum.

Bagi banyak orang di kota, lampu listrik adalah hal biasa. Tapi bagi keluarga Fatimah, cahaya kecil itu terasa seperti keajaiban.

Desa yang Lama Hidup dalam Gelap

Kecamatan Rongga berada di wilayah perbukitan selatan Kabupaten Bandung Barat. Sebagian wilayahnya masih terpencil dan jauh dari jaringan listrik utama.

Meski Jawa Barat dikenal sebagai salah satu provinsi dengan pembangunan pesat, kenyataannya masih ada kantong-kantong desa yang belum sepenuhnya menikmati akses listrik.

Di daerah seperti Mekarsari, rumah-rumah berdiri berjauhan di antara hutan dan ladang. Infrastruktur dasar sering datang lebih lambat dibandingkan wilayah perkotaan.

Fatimah dan keluarganya adalah salah satu contoh nyata kondisi tersebut.

Suaminya bekerja sebagai penyadap getah pinus di hutan sekitar desa. Pekerjaan itu bergantung pada cuaca dan tidak selalu menghasilkan pendapatan tetap.

Di halaman kecil samping rumah, terdapat kandang sederhana berisi beberapa kambing titipan tetangga yang mereka rawat untuk menambah penghasilan.

Di rumah sederhana itu pula Fatimah membesarkan dua anaknya: seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang kini duduk di kelas dua SMP, serta adiknya yang masih duduk di kelas dua SD.

Selama bertahun-tahun, kehidupan malam keluarga itu sangat terbatas.

Tanpa listrik, aktivitas berhenti lebih cepat.

Pelita dari Program LIMAR

Perubahan mulai datang ketika Universitas Pendidikan Indonesia menjalankan program pengabdian masyarakat bernama UPI Berdampak LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat).

Program ini bertujuan membantu keluarga prasejahtera yang belum memiliki akses listrik dengan memasang panel tenaga surya di rumah mereka.

Sabtu, 14 Maret 2026, rombongan kampus datang langsung ke Desa Mekarsari.

Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi bersama jajaran universitas meninjau langsung pemanfaatan panel surya yang telah dipasang beberapa bulan sebelumnya.

Dalam kunjungan itu, tim UPI juga memasang panel baru di rumah dua keluarga lainnya.

Teknologi yang digunakan sebenarnya sederhana. Pada siang hari, panel menyerap energi matahari dan menyimpannya dalam baterai. Energi itu kemudian digunakan untuk menyalakan lampu pada malam hari.

Daya listriknya tidak besar.

Namun cukup untuk menerangi rumah dan mengisi daya telepon genggam.

“Panel surya ini harus dirawat agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Mudah-mudahan dengan adanya penerangan ini warga bisa beraktivitas pada malam hari sehingga menjadi lebih produktif,” ujar Didi saat berdialog dengan warga.

Bagi desa terpencil seperti Mekarsari, teknologi sederhana ini bisa menjadi solusi nyata.

Energi matahari tersedia sepanjang hari, bahkan di daerah yang jauh dari jaringan listrik.

Malam yang Kini Berbeda

Kini malam di rumah Fatimah tidak lagi sama seperti dulu.

Lampu kecil di ruang keluarga menyala hingga larut. Anak-anaknya bisa belajar setelah pulang sekolah. Kadang mereka juga mengaji di bawah cahaya lampu itu.

“Murangkalih bisa belajar malam hari, bisa mengaji juga,” kata Fatimah.

Lampu juga dipasang di bagian depan rumah, membuat halaman kecil tidak lagi gelap gulita.

Dulu, jika harus keluar rumah pada malam hari, Fatimah selalu membawa senter.

Sekarang ia tidak perlu lagi.

Meski begitu, penggunaan listrik tetap harus hemat.

Jika cuaca mendung beberapa hari berturut-turut, energi yang tersimpan di baterai akan berkurang.

“Kalau cuaca mendung biasanya lampu hanya dinyalakan dua saja supaya tidak cepat habis,” ujarnya.

Namun selama beberapa bulan penggunaan, panel tersebut bekerja dengan baik.

“Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala,” katanya.

Harapan yang Masih Menyala

Meski kini memiliki penerangan listrik, kehidupan keluarga Fatimah masih jauh dari mudah.

Akses air bersih masih menjadi persoalan.

Sumber air berada cukup jauh dari rumah. Jalurnya menurun dan sering licin ketika hujan turun.

Beberapa waktu lalu bahkan sempat terjadi longsoran bambu yang menutup jalur tersebut.

“Harapan saya ke depan ada bantuan untuk penyediaan akses air,” kata Fatimah.

Ia berharap suatu hari sumber air bersih bisa lebih dekat dengan rumahnya.

Fatimah juga menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterima.

“Ibu mah ngucapkeun rebu rebu nuhun ka UPI sareng ka Pa Rektor anu parantos ngabantos bumi ibu janten gaduh listrik mandiri janten upami wengi barudak tiasa belajar margi parantos caang,” ucapnya.

Cahaya Kecil untuk Masa Depan

Di tengah sunyi hutan pinus Rongga, cahaya lampu kecil dari panel surya itu tidak terlihat mencolok.

Namun bagi keluarga Fatimah, cahaya tersebut berarti banyak hal.

Ia memberi waktu belajar lebih panjang bagi anak-anaknya.

Ia memberi rasa aman ketika malam datang.

Dan lebih dari itu, ia memberi harapan.

Di desa-desa terpencil yang masih hidup di antara gelap dan terang, kadang perubahan besar memang dimulai dari cahaya yang kecil.***

Tags: Desa Mekarsari Ronggaenergi surya desaenergi terbarukan Indonesiakemiskinan energilistrik desa terpencillistrik tenaga surya Jawa Baratpengabdian masyarakat UPIprogram LIMAR UPI
Share231Tweet145Share58

Trending

Harga Sewa Kos di Bandung 2026
Ragam

Harga Sewa Kos di Bandung 2026, Daerah Ini Masih Terjangkau untuk Mahasiswa dan Karyawan

56 menit ago
umkm
Berita

UMKM Jangan Santai, Salah Kecil Soal Pajak Bisa Berujung Denda hingga Pidana

2 jam ago
Hidayat Nur Wahid Ungkap Asal-usul Halal Bihalal dan Konteks Kebangsaan
Ragam

Hidayat Nur Wahid Ungkap Asal-usul Halal Bihalal dan Konteks Kebangsaan

11 jam ago
Pengajuan KUR BRI di Bandung 2026
Berita

Pengajuan KUR BRI di Bandung 2026 Bisa Online, Ini Syarat dan Cara Lengkapnya

12 jam ago
Nina Fitriana Desak Pemkot Bandung Percepat Transformasi Angkot
Kota Bandung

Nina Fitriana Desak Pemkot Bandung Percepat Transformasi Angkot

12 jam ago
  • Redaksi
  • About
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Dewan Pers
  • Advertise
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam
  • Dengar Radio!