Bandung Barat, BandungOke — Senja biasanya datang lebih cepat bagi sebagian warga di Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.
Rumah-rumah yang berdiri di tepian perbukitan kerap tenggelam dalam gelap ketika matahari turun.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencoba mengubah keadaan itu melalui program UPI Berdampak LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat).
Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi yang digelar Sabtu, 14 Maret 2026, kampus tersebut menambah dua unit panel listrik tenaga surya bagi keluarga prasejahtera di desa tersebut.
Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi bersama Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu Prof. Vanessa Gaffar meninjau langsung panel surya yang telah dipasang enam bulan lalu.
Mereka juga berdialog dengan warga untuk mengetahui manfaat program tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Program LIMAR dirancang untuk memperluas akses energi bagi keluarga yang belum memiliki penerangan listrik memadai.
Melalui teknologi tenaga surya, warga dapat memanfaatkan sumber energi bersih untuk kebutuhan dasar rumah tangga, terutama penerangan pada malam hari.
“Panel surya ini harus dirawat agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Mudah-mudahan dengan adanya penerangan ini warga bisa beraktivitas pada malam hari sehingga menjadi lebih produktif,” ujar Didi di kutip dari keterangan resminya, Selasa 17 Maret 2026.
Dalam kunjungan itu, rektor juga menyaksikan langsung pemasangan dua panel surya baru di rumah warga yang sebelumnya belum memiliki akses listrik.
Penambahan tersebut melengkapi unit yang telah lebih dulu digunakan masyarakat selama setengah tahun terakhir.
Selain memantau pemanfaatan energi surya, tim UPI juga melihat langsung kondisi rumah sejumlah warga penerima bantuan.
Beberapa hunian dinilai memerlukan perhatian karena berada dalam kondisi tidak layak.
“Setelah melihat kondisi di lapangan, kami menilai ada rumah warga yang tidak layak huni. UPI telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan anggaran renovasi agar warga dapat tinggal di rumah yang lebih layak,” kata Didi.
Kampus itu juga berencana membantu penyediaan pengeras suara masjid setelah diketahui suara azan belum terdengar jelas di sebagian wilayah desa.
Bagi warga seperti Fatima, program ini membawa perubahan nyata. Selama lebih dari 15 tahun tinggal di Desa Mekarsari, keluarganya hidup tanpa listrik. Penerangan hanya berasal dari lampu damar atau lilin.
“Alhamdulillah sekarang ada penerangan. Anak-anak bisa belajar pada malam hari,” kata Fatima.
UPI menilai program LIMAR tidak hanya menyediakan akses listrik, tetapi juga mendorong pemanfaatan energi bersih di wilayah pedesaan.
Penerangan listrik dinilai membuka peluang aktivitas ekonomi rumah tangga sekaligus membantu anak-anak belajar setelah matahari terbenam.
Dalam kesempatan yang sama, rektor UPI juga menyerahkan bingkisan Lebaran kepada keluarga penerima manfaat program tersebut.
Melalui monitoring ini, UPI menegaskan komitmennya melanjutkan program pengabdian masyarakat yang menyasar wilayah dengan keterbatasan infrastruktur dasar.
Program LIMAR diharapkan menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan solusi teknologi yang berkelanjutan di desa.***





