Bandung, BandungOke — Menjelang Idul Fitri 2026, Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat menyalurkan “Tunjangan Hari Raya” dalam bentuk pangan kepada jutaan warga.
Sebanyak 6,09 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di Jawa Barat mendapatkan bantuan beras dan minyak goreng secara gratis.
Program ini menjadi bagian dari kebijakan pemerintah melalui skema Cadangan Beras Pemerintah (CBP), sekaligus respons atas kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran—periode ketika konsumsi pangan meningkat.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Jawa Barat, Nurman Susilo, mengatakan setiap keluarga penerima manfaat memperoleh alokasi yang cukup signifikan selama dua bulan penyaluran.
“Setiap KPM, berhak menerima 20 kilo gram beras dan 4 liter minyak goreng (migor) selama Februari-Maret 2026,” ujarnya di kutip Jum’at 20 Maret 2026.
Total bantuan yang digelontorkan pun tidak kecil. Bulog Jawa Barat menyiapkan sekitar 121.879.600 kilogram beras atau setara 121 ribu ton, serta 24.374.120 liter minyak goreng atau sekitar 24 ribu kiloliter.
Bagi banyak keluarga, bantuan ini menjadi “THR” yang terasa langsung manfaatnya.
Di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, bantuan pangan dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi saat Lebaran.
Nurman menegaskan, program bantuan pangan bukan hanya soal distribusi bantuan sosial, tetapi juga bagian dari strategi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar.
Menurut dia, keberadaan Cadangan Beras Pemerintah menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan, terutama untuk komoditas utama seperti beras dan minyak goreng.
Di sisi lain, Bulog juga memastikan ketersediaan stok pangan di Jawa Barat dalam kondisi aman.
Bahkan, cadangan beras disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga periode panen raya mendatang.
“In Syaa Allah, stok CBP berlimpah dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga periode Panen Raya 2027. Jadi jangan khawatir ya,” kata Nurman.
Dengan distribusi bantuan yang masif ini, Bulog berharap masyarakat dapat menjalani Idul Fitri dengan lebih tenang.
Di tengah hiruk pikuk mudik dan lonjakan kebutuhan, kepastian pangan menjadi hal mendasar yang tak bisa ditawar.***





