Bandung, BandungOke — Momentum Dies Natalis ke-58 ISBI Bandung menjadi pengingat pentingnya memperkuat posisi perguruan tinggi seni di tengah arus disrupsi teknologi.
Staf Khusus Mendikti Saintek, Prof. Tjitjik Srie Tjahjandarie, menegaskan kampus seni memiliki peran strategis sebagai benteng budaya nasional yang tak boleh terpinggirkan.
Dalam wawancara dengan media di sela peringatan Dies Natalis, ia menyebut ISBI Bandung sebagai salah satu punggawa pengembangan seni dan budaya Indonesia.
Menurutnya, transformasi teknologi harus diimbangi penguatan akar budaya agar tidak tergerus perubahan zaman.
“Pertama bersyukur saya bisa hadir di acara Dies Natalis ISBI Bandung yang ke-58 ini dan saya menyampaikan selamat Dies Natalis ke-58 untuk ISBI Bandung yang merupakan salah satu punggawa atau benteng dari pengembangan bidang budaya dan seni Indonesia,” ujar Tjitjik. Rabu 1 April 2026.
Ia menekankan, perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab menjaga keberlanjutan identitas budaya nasional.
Disrupsi teknologi, kata dia, tidak boleh membuat seni dan tradisi kehilangan ruang.
“Nah, ini menjadi salah satu pilar yang harusnya kita perkuat ke depannya, karena kita dengan adanya disrupsi teknologi, maka akar budaya dan seni jangan sampai kemudian terlindas. Ini yang sebenarnya perlu kita jadi komitmen bersama seluruh elemen, baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi seni yang ada di Indonesia,” katanya.
Ia juga mendorong ISBI Bandung memperluas kiprah ke level global. Menurutnya, penguatan kualitas akademik dan kolaborasi internasional menjadi langkah penting agar seni budaya Indonesia semakin dikenal dunia.
“Harapan kami dengan Dies yang ke-58 ini, ISBI Bandung dapat terus melaju dan mengepakkan sayapnya tidak hanya di tingkat nasional tapi sudah bisa mendunia. Saya kira itu, selamat sekali lagi untuk ISBI Bandung dan tetap kemudian berkontribusi memberikan manfaat dan berdampak bagi masyarakat dan budaya Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi posisi perguruan tinggi seni sebagai aktor penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan sekaligus merespons perkembangan teknologi secara adaptif.
Di tengah transformasi digital yang kian cepat, sinergi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar seni budaya Indonesia tetap hidup dan relevan.***





