Bandung, BandungOke – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi, seiring tingginya tekanan eksternal dan sentimen pasar global yang belum stabil. Pelemahan mata uang Garuda ini menjadi perhatian pelaku pasar karena kurs dolar AS terus menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data pasar uang, rupiah melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.685 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.668 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan terhadap rupiah di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global.
Kondisi tersebut dipicu kombinasi faktor eksternal, mulai dari penguatan indeks dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global, hingga meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi dunia. Situasi geopolitik internasional juga turut memengaruhi arus modal asing di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi ekonomi nasional tetap terkendali dan fundamental domestik masih cukup kuat menghadapi tekanan global. Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam kondisi aman dan berbeda dibanding krisis 1998.
“Perekonomian RI aman, tidak seperti 1998,” ujar Menkeu Purbaya dalam keterangannya.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter domestik. Stabilitas nilai tukar dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta menahan tekanan harga impor.
Analis memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlangsung dalam jangka pendek apabila tekanan global belum mereda. Namun, masuknya investasi asing dan stabilnya inflasi domestik berpotensi menjadi penahan pelemahan lebih lanjut.
Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian kalangan pelaku usaha karena berdampak langsung terhadap biaya impor bahan baku, industri manufaktur, hingga sektor energi yang masih bergantung pada transaksi dolar AS.





