GIANYAR, BandungOke — Upaya penyelamatan satwa endemik Indonesia kembali dilakukan di Pulau Dewata. Sebanyak delapan ekor Jalak Bali atau Curik Bali dilepasliarkan di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (22/5/2026).
Pelepasliaran empat pasang burung langka tersebut menjadi langkah penting dalam mengembalikan populasi Jalak Bali ke habitat aslinya. Kawasan Desa Pejeng dipilih karena dinilai masih memiliki ekosistem alami yang baik untuk mendukung keberlangsungan hidup satwa endemik khas Bali tersebut.
Kegiatan itu turut dihadiri sejumlah tokoh adat Kabupaten Gianyar, tokoh masyarakat setempat, hingga perwakilan NGO internasional yang selama ini aktif mendukung konservasi Jalak Bali di Pulau Dewata.
Gianyar menjadi kabupaten keempat di Bali yang dipilih sebagai lokasi pelepasliaran Jalak Bali. Sebelumnya, program serupa telah dilakukan di tiga kabupaten lain sebagai bagian dari upaya memperluas habitat alami Curik Bali.
Aktivis lingkungan dari Yayasan Friend of Nature People and Forest, drh. Bayu, mengatakan pelepasliaran tersebut merupakan bagian dari gerakan besar untuk mengembalikan Jalak Bali ke alam liar.
“Kita berharap hadirnya Curik Bali di Pulau Dewata akan menjadi daya tarik pariwisata,” ujar Bayu dalam keterangan persnya, Rabu 27 Mei 2026.
Menurutnya, keberadaan Jalak Bali di habitat asli bukan hanya penting bagi konservasi satwa, tetapi juga dapat memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata berbasis alam dan pelestarian lingkungan.
Burung-burung yang dilepasliarkan itu didatangkan dari Bandung, Jawa Barat. Jalak Bali tersebut berasal dari penangkaran milik Suhana, penangkar yang dikenal luas hingga tingkat internasional dalam pengembangbiakan Curik Bali.
Suhana menjelaskan, seluruh burung yang dipilih telah melalui proses pelatihan khusus agar mampu bertahan hidup di alam bebas.
“Mereka dilatih untuk bisa bertahan hidup dan mengonsumsi pakan yang ada di alam liar,” katanya.
Ia menegaskan pelepasliaran tersebut tidak dilakukan sekadar sebagai kegiatan simbolis atau seremoni belaka. Karena itu, pihaknya hanya memilih burung yang benar-benar siap hidup di habitat alami.
“Awalnya kami akan melepaskan lima pasang Jalak Bali, namun pada tahap akhir ada satu pasang yang tidak siap dilepasliarkan,” paparnya.
Suhana optimistis Jalak Bali yang dilepasliarkan memiliki kemampuan adaptasi tinggi karena telah dibina dengan metode khusus sejak dalam penangkaran.
“Burung yang dilepasliarkan ini sudah bermental tentara. Harapannya mereka bisa bertahan di alam liar dan bisa beranak pinak,” ujarnya.
Jalak Bali merupakan salah satu burung endemik Indonesia yang populasinya sempat berada di ambang kepunahan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat alami. Pelepasliaran di Gianyar diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat populasi Curik Bali sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi satwa langka nasional.***





