Bandung, BandungOke — Beberapa hari berada dalam tahanan tentara Israel menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan Thoudy Badai. Jurnalis Republika itu masih mengingat bagaimana dirinya bersama ratusan relawan kemanusiaan internasional dihentikan, ditangkap, lalu ditahan ketika berlayar membawa bantuan untuk rakyat Palestina.
Namun, bagi alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu, pengalaman tersebut bukanlah kisah tentang dirinya. Yang lebih penting adalah pesan yang dibawanya pulang setelah menyaksikan langsung kerasnya perlakuan Israel terhadap mereka yang berupaya membantu Palestina.
“Selama proses penahanan apa yang dilakukan Israel itu memang tidak manusiawi,” kata Thoudy dalam keterangannya, dikutip Selasa 2 Juni 2026.
Thoudy merupakan salah satu anggota misi kemanusiaan yang tergabung dalam Global Summit Flotilla (GSF). Bersama 458 relawan dari berbagai negara, ia berlayar untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina.
Namun perjalanan itu berakhir dramatis ketika kapal mereka dicegat di perairan internasional dan para relawan ditahan oleh tentara Israel.
Setelah beberapa hari menjalani penahanan, mereka akhirnya dipulangkan ke negara masing-masing dalam keadaan selamat. Bagi Thoudy, pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar berita atau angka statistik yang dibaca dari kejauhan.
Sebagai jurnalis, ia memandang peristiwa yang dialaminya sebagai bagian dari tanggung jawab profesi untuk menyampaikan fakta kepada publik.
“Artinya ini bisa menjadi salah satu pesan moral buat teman-teman bahwa Palestina itu adalah salah satu bangsa yang memang harus kita perjuangkan kemerdekaannya,” ujarnya.
Meski mengaku menjadi korban perlakuan yang tidak manusiawi, Thoudy menegaskan bahwa apa yang dialaminya hanyalah serpihan kecil dibanding penderitaan yang setiap hari dirasakan rakyat Palestina.
“Apa yang saya alami kemarin itu hanya secuil dari penderitaan Palestina. Ini bukan cerita tentang saya, ini bukan cerita tentang teman-teman yang lain, tapi cerita tentang bagaimana Palestina berjuang untuk bebas, terbebas dari segala bentuk penindasan, dan penjajahan yang dilakukan Israel,” tegasnya.

Menurut Thoudy, seorang jurnalis tidak boleh menutup mata terhadap ketidakadilan. Ia menilai keberpihakan kepada korban penindasan bukanlah pelanggaran etik selama tetap berpijak pada fakta dan kebenaran.
“Teman-teman bisa menyuarakan itu dengan mediumnya, dengan medianya. Yang penting kita itu berpihak pada kebenaran, berpihak pada fakta-fakta,” katanya.
Bagi Thoudy, keberpihakan terhadap Palestina bukan hanya soal profesi, tetapi juga panggilan kemanusiaan. Di tengah konflik yang belum berakhir, ia meyakini para jurnalis memiliki peran penting untuk memastikan suara mereka yang tertindas tetap terdengar oleh dunia.***





