BandungOke – Ketika buku tak lagi dibaca dan berita palsu merajalela, Ferry Curtis melawan dengan senjata paling ampuh yakni musik.
Rabu malam (21/5), Pendopo Wali Kota Bandung berubah jadi medan pertempuran sunyi antara kebodohan dan kesadaran, lewat lantunan nada dalam Konser Musik Literasi.
Komunitas Titik Koempul kembali menyuguhkan pertunjukan yang tak sekadar menghibur. Dalam episode ke-118, mereka membawa misi besar yakni membangkitkan literasi lewat harmoni.
Di tengah sorotan lampu dan denting gitar, satu nama mencuat lebih tajam dari yang lain, Ferry Curtis, musisi literasi yang telah mencetak sejarah lewat lagu “Mari Membaca”, kini menjadi suara utama yang menyerukan kebangkitan membaca dari balik panggung.
“Semua diawali dari membaca. Bagi saya, membaca adalah fondasi nomor satu dalam hidup, bahkan untuk musisi,” ujar Ferry yang malam itu tetap tampil meski baru sembuh dari sakit.
Ferry Curtis bukan sekadar pengisi acara. Ia adalah pelopor. Lagu-lagunya bukan hanya enak didengar, tapi menggugah. Dari masa pandemi hingga kini, ia menjadikan musik sebagai peluru dalam perjuangan melawan ketidaktahuan.
“Saat COVID-19, saya bikin lagu edukasi yang dipakai pemerintah. Musik menyebar lebih cepat daripada buku,” ungkapnya, menegaskan kekuatan nada sebagai medium perubahan sosial.
Titik Koempul sendiri telah dua tahun konsisten jadi ruang alternatif bagi para musisi yang ingin lebih dari sekadar tampil. Mereka ingin mengubah arah industri musik, menjadikannya alat perjuangan sosial, termasuk untuk membangun budaya baca.
“Kami bukan tempat untuk cari tenar. Bahkan musisi yang baru belajar bikin lagu kemarin sore bisa tampil di sini, asal punya misi,” ujar Azizi, Ketua Titik Koempul.
Di tengah aliran musik, diskusi hangat juga berlangsung. Sorotan literasi tidak hanya datang dari lirik lagu, tapi juga dari budayawan Budi Dalton. Menurutnya, literasi bukan cuma soal teks.
“Generasi sekarang tetap membaca, tapi lewat layar. Kita harus menyampaikan pesan dalam bahasa mereka,” ujarnya, sambil memuji pendekatan literasi lewat musik yang dilakukan Ferry.
Lebih dari sekadar konser, malam itu jadi panggilan. Panggilan untuk tak lagi diam saat minat baca terjun bebas. Panggilan untuk menjadikan musik bukan hanya hiburan, tapi bahan bakar peradaban.
Dan tempat itu Bale Sawala, Pendopo Wali Kota Bandung pun kembali pada takdirnya sebagai ruang musyawarah dan pertunjukan rakyat. Kini bukan untuk tontonan kosong, tapi untuk pertunjukan perubahan.***






