Bandung, BandungOke – Jawa Barat mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 1,78 persen pada Juni 2025.
Dua komoditas mencolok: emas perhiasan dengan andil 0,52 persen dan cabai rawit 0,05 persen secara bulanan (month-to-month). Hal tersebut disampaikan Darwis Sitorus, Plt Kepala BPS Jawa Barat.
Selain itu, inflasi bulanan sebesar 0,27 persen juga disumbang oleh kenaikan harga LPG, beras, tomat, hingga telur ayam. Di sisi lain, bawang putih dan bensin menyumbang deflasi.
Darwis juga mencatat peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,85 persen dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) sebesar 2,06 persen. Ini dipicu oleh naiknya harga gabah, cabai rawit, dan tomat.
Namun, sektor pariwisata belum pulih sepenuhnya. Wisatawan mancanegara yang masuk lewat Bandara Kertajati turun 23,05 persen dari bulan sebelumnya.
Begitu juga dengan perjalanan wisatawan nusantara yang turun 21,42 persen secara bulanan. Dampaknya, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel juga ikut tertekan.
Meski begitu, ada kabar baik dari sektor perdagangan luar negeri. Ekspor Jawa Barat mencapai 3,33 miliar USD, naik 20,54 persen dibanding April 2025. Kendaraan, mesin elektrik, dan mekanis jadi tulang punggung ekspor, dengan Amerika Serikat sebagai tujuan utama.
Sementara impor turun 0,82 persen dan menjadikan neraca perdagangan Jawa Barat surplus 10,39 miliar USD. Meski ekspor ke AS dan ASEAN tetap kuat, Jabar masih defisit dalam neraca perdagangan dengan Tiongkok dan Taiwan.
Ekonomi Jawa Barat sedang menyusun ulang ritmenya, di tengah harga pangan yang fluktuatif dan sektor pariwisata yang lesu, perdagangan luar negeri justru memberi nafas panjang bagi laju pertumbuhan.***






