Bandung, BandungOke.com – Meski digempur polemik kepengelolaan dan tarik-menarik kepemilikan, Kebun Binatang Bandung alias Derenten tak kehilangan magnet.
Pada Minggu, 6 Juli 2025, tercatat lebih dari 4.000 pengunjung memadati kawasan konservasi fauna yang berdiri sejak 1933 itu.
Cuaca mendukung dan momentum libur akhir pekan membuat suasana semakin meriah.
Anak-anak berlarian di bawah rindangnya pepohonan, orangtua berswafoto bersama keluarga, dan pengunjung dari luar kota ikut menyemarakkan atmosfer. Daya tarik utamanya: Parade Satwa, sebuah atraksi yang mulai rutin digelar untuk menyemai kecintaan pada dunia satwa sekaligus edukasi lingkungan hidup.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman edukatif yang juga menghibur bagi keluarga,” ujar Sulhan Syafe’i, Humas Kebun Binatang Bandung. Senin (7/7/2025)
“Parade ini bukan sekadar tontonan. Ada pesan bahwa hewan pun punya hak hidup dan harus dihormati dalam ekosistemnya.” imbuh sulhan.
Parade satwa menampilkan berbagai spesies seperti burung macaw, kakatua, dan lainnya yang menghiasi lintasan taman. Beberapa satwa bahkan berinteraksi langsung dengan pengunjung di bawah pengawasan ketat keeper profesional.
Anak-anak tampak antusias saat seekor burung elang berdiri di lengan pawang, sementara para orang tua sibuk mengabadikan momen langka tersebut.
“Ini bukan pertama kalinya kami gelar parade. Tapi animo hari ini sungguh luar biasa,” tambah Sulhan. Menurutnya, wisatawan sangat antusias sejak diperkenalkannya program edukasi bertema “Satwa Sahabat Kita”.
Di balik gemerlapnya atraksi, Kebun Binatang Bandung, tetap menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari jantung budaya masyarakat Bandung. Tempat ini bukan hanya destinasi wisata, melainkan simpul kenangan lintas generasi, dari tradisi botram hingga pentas pencak silat di masa lalu.
Meski sempat diterpa konflik kepemilikan dan desakan pengelolaan ulang, spirit masyarakat tampaknya tetap berpihak pada warisan budaya ini. Kebun Binatang Bandung, bukan semata tempat bermain, tetapi ruang hidup bersama yang menyatukan nilai ekologis, sejarah, dan kearifan lokal.
“Ini bukan sekadar kebun binatang. Ini bagian dari identitas kota,” pungkas Sulhan.***





