close
RCAST.NET
HOT
BandungOKE
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

RSUD Welas Asih, Nama Baru dengan Sejarah Al Ihsan yang Dihapus Diam-diam

by Adems
11 Juli 2025 - 07:32
RSUD Welas Asih, Nama Baru dengan Sejarah Al Ihsan yang Dihapus Diam-diam

KABUPATEN BANDUNG, BandungOke.com – Ada yang berubah dari wajah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Welas Asih.

Logo barunya kini tampil dengan siluet kujang biru, kaligrafi Arab, dan lima titik merah muda. Semua tampak penuh makna.

RelatedPosts

Tiket KA Lebaran 2026 Resmi Dijual Bertahap Mulai 25 Januari

Perlintasan Sebidang Masih Rawan,  Bukti Lemahnya Kebijakan Keselamatan Publik

MSB 17 Tahun: Menjaga Ruang Sastra di Tengah Riuh Zaman

Filosofis, kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi—atau lebih sering disapa KDM. Namun, di balik parade simbol dan narasi budaya, ada pertanyaan yang menggantung: adakah jejak sejarah yang sengaja disamarkan?

“Ini gambar kujang dengan tiga lubang di punggungnya yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan,” ujar KDM saat peluncuran logo, Selasa (8/7).

Kujang, sebagai senjata tradisional Sunda, diangkat menjadi simbol utama. Namun, tak hanya itu. KDM melangkah lebih jauh dengan memasukkan simbol rahim, lima titik kehidupan, hingga kaligrafi Ar-Rahman Ar-Rahim. “Manusia lahir dengan cinta,” katanya.

Sejarah Yang Dihilangkan

RSUD ini dulunya bernama Al Ihsan. Nama yang sarat makna keislaman dan melekat erat pada sejarah pendiriannya oleh para tokoh keagamaan.

Kini, Al Ihsan tinggal nama yayasan. Sementara rumah sakitnya—atas nama rebranding—berubah menjadi Welas Asih. Persis seperti nama baru yang terdengar lebih soft, lebih netral, dan mungkin lebih jauh dari akar sejarahnya.

Maka tak heran jika narasi simbol yang begitu tebal dari KDM dibaca oleh sebagian sebagai upaya “melunakkan” kritik atas pergantian nama tersebut.

Apalagi dalam kesempatan itu, KDM seolah memberi isyarat adanya “utang simbolik” terhadap pendiri Al Ihsan.

“Jangan lupa, saya titip. Letakkan di bagian depan. Tulis nama-nama mereka dengan baik, lalu kita beri apresiasi kepada keluarga mereka,” pintanya kepada Direktur RSUD Welas Asih.

Sebuah titipan, yang justru memperlihatkan bahwa ada yang dilupakan.

KH Olih Komarudin dari Yayasan Al Ihsan tampak menerima makna logo itu dengan tangan terbuka. Tapi apakah penerimaan itu juga mencerminkan suara para pendiri dan keluarga besar Al Ihsan? Atau ini semata-mata respons diplomatis demi menjaga hubungan baik dengan kekuasaan?

Simbol bisa menjadi alat edukasi, tetapi juga dapat menjadi tameng. Ketika simbol menjadi tebal, dan sejarah yang nyata justru mengabur, kita patut bertanya: ini transformasi atau penghapusan?***

Editor : Deny Surya

Tags: al ihsanDedi MulyadiKH Olih Komarudinwelas asih
Share223Tweet140Share56

Trending

KAI Daop 2 Tambah 4 KA untuk Nataru, Antisipasi Lonjakan Penumpang
Jawa Barat

Tiket KA Lebaran 2026 Resmi Dijual Bertahap Mulai 25 Januari

17 jam ago
Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar
Kota Bandung

Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar

21 jam ago
Toyota New Veloz Hybrid EV: Tantangan Baru di Pasar MPV Indonesia
Nasional

Toyota New Veloz Hybrid EV: Tantangan Baru di Pasar MPV Indonesia

24 jam ago
Stasiun Jatake Siap Beroperasi, Keselamatan Jadi Kunci Mobilitas Warga
Nasional

Stasiun Jatake Siap Beroperasi, Keselamatan Jadi Kunci Mobilitas Warga

2 hari ago
Perlintasan Sebidang Masih Rawan,  Bukti Lemahnya Kebijakan Keselamatan Publik
Jawa Barat

Perlintasan Sebidang Masih Rawan,  Bukti Lemahnya Kebijakan Keselamatan Publik

2 hari ago
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam