Bandung, BandungOke.com – Tidak ada kabel listrik yang dibentangkan, tiada meteran yang terpasang, tapi di jantung hutan kota Tahura Ir. H. Juanda, 23 anak disabilitas merasakan energi yang tak kasatmata—energi kasih sayang. Itulah yang dibawa oleh para perempuan PLN UID Jawa Barat, dalam kegiatan sosial bertajuk Srikandi Sahabat Anak, 30 Juli lalu.
Alih-alih menggelar seremoni di ruangan ber-AC dengan presentasi PowerPoint, para perempuan yang tergabung dalam Srikandi PLN memilih jalan kaki menyusuri alam bersama anak-anak dari Yayasan Rumah Hasanah. Di bawah naungan pohon pinus dan udara segar pegunungan, tawa anak-anak pecah bebas. Mereka menyanyi, memainkan alat musik, dan mengikuti permainan interaktif yang disiapkan dengan penuh perhatian.
Kegiatan itu memang tampak sederhana. Tapi di baliknya, ada pesan kuat yang hendak disampaikan: inklusi sosial tak bisa ditunda. Bahwa anak-anak disabilitas bukan sekadar kelompok yang diberi belas kasih musiman, tetapi bagian dari masyarakat yang harus diberi ruang—untuk bermain, belajar, tumbuh, dan bermimpi.
“Kami ingin anak-anak ini merasakan dunia yang sama seperti anak-anak lainnya—dunia yang ceria, bebas, dan tanpa batasan,” kata Refa Purwati, Ketua Srikandi PLN UID Jabar, dengan suara yang menggambarkan keyakinan penuh pada makna aksi sosial ini.
Dikutip Kamis (31/7/2025)
Apa yang dilakukan Srikandi PLN bukan terpisah dari visi korporasi. Ia dirancang menyatu dalam semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan inklusif dan pengurangan kesenjangan. Tapi lebih dari itu, ini adalah bentuk energi manusiawi yang sering kali tenggelam di balik laporan tahunan dan angka pencapaian kinerja.
General Manager PLN UID Jabar, Tonny Bellamy, memberi penghormatan tersendiri kepada para perempuan di organisasinya. “Energi sesungguhnya tak melulu berbentuk listrik. Ada energi lain—yang lebih halus tapi berdampak luas—seperti kasih sayang dan kepedulian,” ujarnya.
Anak-anak yang mengikuti kegiatan itu berasal dari Rumah Hasanah, lembaga yang membina 30 anak disabilitas dengan 12 pendamping. Bantuan yang diberikan PLN pun bukan hanya sekali ini. Pada 2024, lembaga ini telah menerima dana TJSL sebesar Rp 240 juta dari PLN UID Jabar—dibelanjakan untuk program stimulasi, pelatihan keterampilan, dan pengembangan bakat seni.
Hasilnya mulai terlihat. “Dulu banyak anak mengalami tantrum berkepanjangan dan kesulitan fokus. Sekarang, setelah program berjalan, mereka bisa membuat produk ecoprint, tampil menyanyi, bahkan praktik kerja di kafe. Anak-anak lebih tenang dan percaya diri,” kata Fifi Ferita Mulfia, pimpinan Rumah Hasanah.
Kegiatan di Tahura ini juga dihadiri Kepala Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel, Andina Rahayu, yang menyebut program seperti ini langka dan berharga. “Kita bicara tentang keberanian menghadirkan inklusi, bukan wacana, tapi aksi nyata,” katanya.
Kegiatan semacam ini tidak sekadar menciptakan momen emosional. Ia membangun narasi baru bahwa korporasi besar seperti PLN bisa turun tangan langsung menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. Tidak dengan jargon, tetapi dengan kehadiran.
Di tengah dunia yang kadang dingin dan efisien, para Srikandi ini memberi kehangatan. Menyalakan cahaya di tempat yang tak tersentuh jaringan listrik—di hati anak-anak, di ruang tumbuh yang setara, dan di masa depan yang lebih inklusif.***






