Bandung, BandungOke — Dalam atmosfer peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, Universitas Padjadjaran menyuguhkan sebuah diskursus tajam mengenai politik luar negeri Amerika Serikat, Israel, dan dinamika perlawanan Palestina.
Forum itu berlangsung dalam Global Insight Forum, rangkaian Al-Aqsa Awareness Week (AAW) yang digelar di Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad, Sabtu (29/11/2025)
Keynote speaker Prof. Sami Al-Arian, akademisi lulusan Amerika yang hidup nyaris sepanjang usia sebagai pengungsi Palestina, membuka forum dengan analisis bernuansa yang padat fakta, keras, dan politis.
Ia memaparkan bahwa genosida di Palestina bukanlah tragedi yang muncul seketika, tetapi “rantai panjang kolonialisme yang terstruktur sejak sebelum 1948.”
“Israel masih melaparkan warga Gaza. Mereka sengaja menghitung kalori kebutuhan warga Gaza, dan hanya membiarkan setengah kebutuhan itu tercukupi,” ujar akademisi yang kini bermukim di Turki tersebut.
Baginya, tak ada realitas gencatan senjata yang sungguh-sungguh: “Israel tetap mengeksekusi strategi penghancuran populasi.”
Prof. Sami juga mengkritisi keras Resolusi 2803 DK PBB, yang menurutnya memperburuk keadaan. “Amerika menggunakan PBB untuk mengerjakan sesuatu yang Israel tak bisa lakukan sendiri: melucuti Hamas sebagai bagian dari proyek genosida,” tuturnya.
Ia menguraikan bahwa dari seluruh tanah historis Palestina, kini hanya tersisa sekitar 15% wilayah, yakni Gaza dan Tepi Barat — keduanya tetap dalam kontrol penuh otoritas pendudukan.
Solusi Dua Negara “Pacifier Politik” yang Meninabobokan Dunia
Nada tajam itu disambut Dr. Maimon Herawati, dosen Jurnalistik Fikom Unpad sekaligus Direktur SMART 171. Ia menilai narasi diplomasi global terlalu lama memberikan ilusi.
“Solusi dua negara jadi semacam pacifier. Seolah-olah ada cita-cita besar Palestina merdeka, padahal realitas politiknya justru berlawanan,” ujarnya. Dalam perspektifnya, wacana itu lebih banyak menjadi alat penenang geopolitik ketimbang upaya penciptaan keadilan.
Jurnalis Indonesia Bongkar Bias Pemberitaan: ‘Berita Jadi Kurang Ruhnya’
Dari ranah jurnalisme, Harfin Naqsyabandy (Liputan6 SCTV), yang telah tiga kali bertugas di perbatasan Rafah, memotret bagaimana narasi media Indonesia sering “dipasok” dari kantor berita asing tanpa verifikasi lapangan.
Akibatnya, publik kerap terjebak propaganda atau membaca berita yang “kosong jiwa”.
Ia mengingat kembali liputannya pada akhir 2023 silam.
“Untuk hanya mencapai Al-Arish saja saya melewati 12 checkpoint. Truk bantuan dari Indonesia mengantre hingga satu bulan. Ada gudang penuh bantuan yang dilarang Israel: besi, kurk, tongkat bantu jalan, dan lainnya.”
Pengalaman itu menegaskan bagaimana kontrol Israel terhadap bantuan kemanusiaan menjadi bagian dari strategi perang berkepanjangan.
Sepekan AAW Unpad: Dari Seni, Budaya, hingga Run For Palestine
AAW Unpad, kolaborasi SMART 171 dan KMMK Unpad, dihelat sepanjang Senin–Jumat di Bale Aweuhan Unpad. Kegiatan ini menghadirkan pameran visual mengenai kehidupan warga Gaza: tenda pengungsian, zona medis, memorial keluarga, ruang jurnalis, hingga replika “tenda kejahatan” penjara Israel.
Selain diskusi politik, forum ini juga diperkaya mini seminar, bedah buku Thufanul Aqsa, performa seni, hari budaya Palestina, workshop Tatreez, hingga sesi memasak makanan khas Palestina. Rangkaian acara akan ditutup Minggu dengan Run For Palestine, sebagai simbol solidaritas publik terhadap tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung.
Dengan pendekatan akademik, jurnalisme lapangan, dan karya budaya, AAW Unpad menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar konflik geopolitik, melainkan tragedi kemanusiaan yang memerlukan keberpihakan etis.***





