Bandung, BandungOke – Di Bandung, derit roda besi Commuter Line tak lagi sekadar penanda ritme kerja harian.
Pada moment libur Natal dan Tahun Baru 2026, kereta komuter menjelma ruang mobilitas sosial, tempat keluarga berkumpul, wisatawan saling bertukar sapa, dan warga merayakan tahun baru tanpa kepungan kemacetan.
KAI Commuter Wilayah 2 Bandung mencatat 1.047.367 pengguna sepanjang masa Angkutan Nataru 18 Desember 2025—1 Januari 2026. Angka itu bukan hanya statistik perjalanan, melainkan potret perubahan perilaku transportasi masyarakat urban Jawa Barat.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut Commuter Line kini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup kota.
“Kami melihat Commuter Line di wilayah Bandung bukan hanya sekadar transportasi harian, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat untuk berwisata dan bersilaturahmi, terutama di momen libur panjang seperti ini,” ujar Karina dikutip Jumat (2/1/2026)
Pada malam pergantian tahun, arus penumpang menguat di simpul-simpul ruang publik. 73.815 pengguna memilih kereta sebagai moda perjalanan menuju pusat keramaian.
Stasiun Bandung mencatat angka tertinggi, 8.891 orang, diikuti Stasiun Cikarang dengan 7.461 orang. Bagi banyak keluarga, perjalanan kereta menjadi cara aman dan efisien merayakan momen pergantian tahun.
Di hari pertama 2026, mobilitas wisata mengambil alih. Hingga pukul 15.00 WIB, 57.124 orang naik Commuter Line menuju lokasi-lokasi rekreasi.
Stasiun Cimekar menjadi titik magnet baru berkat kedekatannya dengan Masjid Raya Al Jabbar, menyerap 3.265 pengguna. Sementara Stasiun Garut mencatat 1.165 pengguna, menegaskan wisata alam tetap menjadi destinasi favorit awal tahun.
“Melihat tren ini, kami sangat senang dapat memfasilitasi momen bahagia keluarga di awal tahun dengan transportasi yang efisien dan terjangkau,” tambah Karina.
Di balik geliat perjalanan, Bandung masih dibayangi cuaca hujan. KAI Commuter mengingatkan keselamatan sebagai prioritas utama.
“Kami mengingatkan pengguna, khususnya yang membawa keluarga dan anak-anak, untuk selalu sedia payung atau jas hujan serta menggunakan alas kaki yang tidak licin. Utamakan keselamatan saat naik-turun kereta dan selalu ikuti arahan petugas di stasiun,” tutup Karina.
Dalam lanskap mobilitas baru, Commuter Line tak lagi berdiri sebagai moda transportasi semata. Ia berkembang menjadi ruang perjumpaan, jalur silaturahmi, dan bagian dari identitas gaya hidup warga Bandung efisien, inklusif, dan semakin relevan di tengah kota yang terus bergerak.***





