Cimahi, BandungOke – Jika banyak sekolah kewalahan menghadapi dominasi gawai, SMA Negeri 6 Kota Cimahi memilih jalur berbeda: melawan “brain rot” dengan karakter dan literasi.
Sekolah ini secara terbuka mengampanyekan pembatasan penggunaan ponsel, terutama pada waktu-waktu krusial.
“Kami minta anak-anak tidak membuka media sosial saat bangun tidur dan sebelum tidur. Otak perlu jeda, perlu ruang berpikir,” kata Susanto S.Pd, Kepala SMAN 6 Cimahi kepada wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pendidikan (FWP) Jabar. Rabu (14/1)
Larangan membawa ponsel ke kelas diterapkan ketat, kecuali untuk kebutuhan pembelajaran. Kebijakan ini bukan anti-teknologi. Justru sebaliknya, guru didorong untuk melek teknologi, termasuk memahami kecerdasan buatan seperti ChatGPT.
“Guru sekarang bukan satu-satunya sumber ilmu. Mereka harus jadi pendamping. Kalau guru gagap teknologi, mereka akan ditinggal siswa,” tegas Susanto.
Penguatan karakter juga dilakukan lewat budaya literasi guru. Para pendidik diwajibkan terus memperbarui pengetahuan, banyak membaca, berdiskusi, dan mengikuti workshop.
“Bagi sekolah, karakter siswa tak mungkin tumbuh jika gurunya berhenti belajar.” Katanya.
Di sisi lain, SMAN 6 Cimahi aktif membangun sinergi dengan orang tua. Grup WhatsApp wali kelas dan orang tua dimaksimalkan untuk memantau perilaku siswa di luar sekolah—wilayah yang justru paling sulit dikontrol.
“Lingkungan luar sekolah sangat heterogen. Tanpa kerja sama orang tua, program karakter di sekolah akan timpang,” kata Susanto.
Ia menegaskan, pendidikan dan kesehatan adalah dua pilar utama kemajuan bangsa. Data rendahnya jumlah sarjana di Indonesia menjadi alarm keras bahwa pendidikan tak bisa dikerjakan sendiri oleh sekolah.
Melalui nilai Pancawaluya, SMAN 6 Cimahi berupaya menanamkan karakter yang relevan dengan zaman dengan sehat jasmani-rohani, berakhlak, berintegritas, cerdas, dan adaptif.
Di era serba cepat, SMAN 6 Cimahi memilih bergerak pelan namun berakar kuat untuk mencapai tujuannya.***






