Jakarta, BandungOke — Alas Roban telah lama hadir sebagai cerita bersama: jalan gelap, hutan rapat, kabut yang turun mendadak, dan larangan-larangan yang diwariskan tanpa sumber pasti.
Ia hidup bukan karena semua orang mengalami kejadian yang sama, melainkan karena banyak orang pulang membawa perasaan yang serupa—tidak nyaman, curiga, dan enggan membantah cerita yang sudah terlanjur mapan.
Film Alas Roban memanfaatkan modal kultural itu. Jalan di Batang, Jawa Tengah, yang selama bertahun-tahun diperlakukan sebagai ruang mitos, kini dihadirkan ulang sebagai komoditas horor layar lebar.
Di tangan sinema, cerita-cerita yang sebelumnya beredar sebagai bisik-bisik berubah menjadi narasi visual yang siap dikonsumsi massal.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu menempatkan Alas Roban sebagai latar yang, menurutnya, memiliki bobot sejarah dan misteri. “Alas Roban menyimpan banyak sejarah dan misteri. Jalur ini dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Jawa,” kata Hadrah. Dikutip Rabu (14/1)
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bagaimana sejarah dan mitos dilebur, tanpa selalu diberi jarak kritis, demi membangun atmosfer horor yang dipercaya penonton.
Hadrah juga menyinggung pengalaman-pengalaman ganjil yang kerap diceritakan pelintas. “Banyak yang menemukan hal-hal gaib dan mistis saat melewati, bahkan setelahnya,” ujarnya. Klaim semacam ini lazim dalam film horor Indonesia: pengalaman personal diposisikan sebagai kebenaran kolektif, lalu dikukuhkan melalui bahasa sinema.
Menjelang penayangan pada 15 Januari 2026, Alas Roban mengulang daftar larangan yang sudah lama beredar—tidak melintas tengah malam, tidak singgah di warung, mewaspadai spion, mengabaikan suara panggilan, dan tidak menatap bayangan di pepohonan.
Larangan-larangan itu bekerja bukan sekadar sebagai elemen cerita, melainkan sebagai mekanisme disiplin: penonton diajak percaya bahwa melanggar aturan akan berujung petaka.
Di titik ini, film tersebut tidak hanya memproduksi ketakutan, tetapi juga melanggengkan cara berpikir mitologis. Teror tidak selalu hadir dalam wujud makhluk, melainkan dalam keyakinan yang ditanamkan perlahan—bahwa ruang tertentu harus ditakuti tanpa perlu dipertanyakan.
Taskya Namya, yang memerankan Tika, menggambarkan momen ketika kecurigaan dalam cerita mulai memuncak. “Momen ketika Tika menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, kecurigaan muncul makin kuat karena ada yang aneh.
Terlebih saat Gendis mengajak main petak umpet, di situ ekspresinya tidak seperti Gendis yang ia kenal,” ujar Taskya.
Adegan ini menegaskan pendekatan film yang mengandalkan perubahan kecil dan keganjilan psikologis, bukan sekadar kemunculan sosok seram.
Diproduksi oleh Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures, serta dibintangi Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Imelda Therinne, dan Fara Shakila, Alas Roban hadir di tengah pasar horor Indonesia yang kian padat.
Urban legend kembali menjadi bahan baku utama, diolah dengan formula yang relatif familiar.
Pertanyaannya, apakah film ini membuka pembacaan baru atas Alas Roban, atau justru mempertebal ketakutan lama demi kepentingan hiburan? Alas Roban tampaknya memilih jalan kedua: merawat mitos agar tetap hidup, karena di situlah horor—dan pasar—terus menemukan penontonnya.***






