Cianjur, BandungOke – Ketika pagi menyapa Desa Ciguha, Kecamatan Sukanagara, gema harapan datang dari deru mesin motor tua yang dikendarai Nurbaeti.
Bukan sekadar berkendara melewati jalan berbatu ia tengah melintasi rongga kemiskinan dan kekhawatiran gizi yang masih membayangi banyak keluarga di wilayah ini.
Sebagai kader KB dan Tim Pendamping Keluarga (TPK), Nurbaeti menjadi pengantar MBG Program Makanan Bergizi Gratis yang dirancang untuk mengatasi kekurangan gizi pada ibu hamil dan balita.
Tugasnya sederhana namun berat yakni memastikan makanan bergizi tersalurkan tepat waktu ke rumah-rumah yang sulit dijangkau.
“Selain saya senang dengan anak kecil, mungkin karena dorongan dari almarhum orang tua saya untuk mengabdikan diri dan melanjutkan kegiatan beliau.” ujarnya, mengenang motivasi yang membuatnya tak gentar pada rintangan jalan dan cuaca.
Konteks yang dihadapi oleh Nurbaeti lebih dari sekadar fisik medan. Di Kabupaten Cianjur, prevalensi stunting yang pernah sangat tinggi berhasil ditekan secara signifikan, turun menjadi sekitar 7,3 persen dari angka yang jauh lebih tinggi sebelumnya, berkat berbagai program penanganan bersama lintas sektor.
Namun angka tersebut masih mengingatkan bahwa ketidakcukupan gizi tetap menjadi tantangan nyata, terutama di pedesaan terpencil seperti Ciguha.
Selain itu, angka kemiskinan di wilayah ini masih membayangi kehidupan ratusan ribu keluarga. Ketergantungan pada lahan pertanian yang tak selalu menghasilkan pendapatan cukup membuat banyak warga hidup di bawah garis kesejahteraan, dan posisi geografis Desa Ciguha justru memperparah akses terhadap layanan dasar.
“Kendalanya mungkin di perjalanan, jalur jalannya tidak mudah dilalui, lokasinya tidak dekat,” kata Nurbaeti soal medan yang ia hadapi setiap hari.
Bagi ibu balita seperti Tutih (27), kehadiran MBG bukan sekadar bantuan rutin, melainkan awal perubahan dalam rumah tangganya. “Anak saya jadi lebih teratur dalam makan dan makin aktif,” ujarnya.
Peran Nurbaeti tak hanya mengantar makanan. Lewat interaksinya, muncul pesan penting tentang pentingnya gizi, perawatan kehamilan, dan pola asuh yang baik hal yang sangat dibutuhkan di tengah kemiskinan struktural yang masih membayangi warga Ciguha.
“Alhamdulillah saat kita memberikan MBG kepada masyarakat, saat mereka menanti kita itu kepuasan tersendiri,” katanya.
Perjalanan Nurbaeti menggambarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tugas kader kesehatan, ia adalah langkah kecil yang menantang ketidaksetaraan, satu rumah demi satu rumah, di desa yang belum banyak disentuh oleh pembangunan.
Jika Anda ingin versi dengan infografik data stunting & kemiskinan Cianjur untuk publikasi media, saya juga bisa bantu menyusunnya.***






