Bandung, BandungOke – Bagi pekerja urban, sore hari kerap menjadi titik rawan. Fokus menurun, tenaga terkuras, sementara pekerjaan belum sepenuhnya rampung.
Di sela rapat daring, tenggat waktu, dan perjalanan pulang yang macet, tubuh menuntut asupan energi cepat—tanpa ribet.
Di sinilah kurma menemukan relevansinya.
Setiap butir kurma mengandung sekitar 5 hingga 18 gram karbohidrat yang mudah terurai.
Kandungan ini menjadikan kurma sumber energi instan yang praktis dikonsumsi di tengah ritme kerja kota yang serba cepat.
Ahli gizi terdaftar sekaligus penulis The Everything Easy Pre-Diabetes Cookbook, Lauren Harris-Pincus, MS, RDN, menyarankan kurma sebagai camilan di antara waktu makan.
Mengutip laporan Health, ia menilai waktu sekitar pukul 15.00 sebagai momen strategis.
“Mengonsumsi kurma sekitar pukul 15.00 bisa mengatasi penurunan energi pada sore hari,” ujarnya.
Bagi pekerja urban, jam tersebut sering kali bertepatan dengan fase energy crash: makan siang sudah lewat, kopi mulai kehilangan efeknya, sementara agenda kerja masih padat.
Kurma menjadi alternatif yang lebih ramah tubuh dibanding camilan tinggi gula olahan.
Tak hanya mendukung stamina di balik meja kerja, kurma juga relevan bagi pekerja kota yang menyempatkan diri berolahraga sebelum atau setelah jam kantor.
Ahli gizi Stacey Woodson, MS, RD, LDN, menyebut kurma sebagai camilan pra-latihan yang efektif.
“Kurma adalah pilihan cerdas sebagai camilan pra-olahraga, karena kandungan karbohidratnya membantu memberi energi pada otot yang bekerja, sementara kaliumnya mendukung fungsi otot yang optimal,” katanya.
Bagi mereka yang langsung menuju pusat kebugaran sepulang kantor, kurma bisa dikonsumsi di perjalanan—praktis, tak perlu persiapan, dan mudah dibawa.
Manfaatnya berlanjut setelah olahraga. Ahli gizi olahraga Roxana Ehsani, MS, RD, CSSD, menjelaskan bahwa kurma membantu pemulihan tubuh yang kelelahan setelah aktivitas fisik.
Menurutnya, “karbohidrat dalam kurma bisa membantu memulihkan dan mengisi kembali glikogen otot,” terutama jika dikombinasikan dengan protein. Selain itu, kurma membantu menggantikan kalium yang hilang akibat keringat.
Di balik fungsi energinya, kurma juga bekerja menjaga kesehatan pencernaan—isu yang tak jarang menghantui pekerja urban akibat jam makan tak teratur dan minim serat. Stacey Woodson menyebut kurma kaya akan serat dan senyawa anti-inflamasi.
Tiga butir kurma Medjool tanpa biji, misalnya, menyediakan sekitar 4,8 gram serat atau 13 hingga 19 persen kebutuhan serat harian. Studi tahun 2025 menunjukkan serat dalam kurma membantu pertumbuhan bakteri baik di usus, faktor penting bagi sistem pencernaan yang stabil.
Meski belum ada waktu khusus yang dianggap paling ideal untuk manfaat pencernaan, para ahli sepakat kurma paling tepat dikonsumsi sebagai camilan di sela waktu makan—pola yang lazim dalam kehidupan pekerja kota.
“Jeda ini memungkinkan sistem pencernaan mendapat manfaat serat secara konsisten tanpa membuatnya kewalahan,” kata Woodson.
Ia pun menekankan fleksibilitas. “Saya merekomendasikan mengonsumsi kurma pada waktu yang paling sesuai dengan gaya hidup kalian,” ujarnya.
Para ahli juga menyarankan kurma dikonsumsi bersama air putih atau cairan lain. Kebiasaan sederhana ini membantu serat bergerak lebih lancar dalam saluran pencernaan—penting bagi mereka yang lebih banyak duduk sepanjang hari.
Dalam lanskap gaya hidup urban yang serba cepat, kurma mungkin tampak sepele. Namun sebagai camilan alami, ia menjawab kebutuhan energi, kebugaran, dan pencernaan—tanpa mengganggu ritme kerja yang ketat.***






