Jakarta, BandungOke – Di sebuah penjara fiktif Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Joko Anwar menanamkan teror yang tidak semata berasal dari hantu.
Lewat Ghost in the Cell, horor menjelma bahasa kritik—sunyi, gelap, dan menghantui. Film itu kini menembus Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, terpilih di section Forum, ruang kurasi bergengsi yang dikenal memberi panggung bagi sinema dengan keberanian artistik dan kegelisahan sosial.
Bagi Joko, ini bukan sekadar perjalanan film ke festival internasional. Forum Berlinale memiliki reputasi sebagai rumah bagi karya-karya yang menantang batas, baik dari segi bentuk maupun gagasan.
Di sinilah film-film dengan visi kuat berbicara tentang politik, sejarah, dan relasi kuasa—tanpa harus kehilangan identitas genre.
“Kami sangat bangga film Ghost in the Cell terpilih di section ini di Berlinale karena section ini dikenal sebagai section yang secara kuratorial selalu memilih film yang bukan sekadar mengandalkan cerita, tetapi juga relevansinya kuat dengan situasi sosial dan politik negara asal setiap film yang masuk seleksi ini,” kata Joko Anwar dikutip Selasa (20/1)
Forum Berlinale bukan wilayah asing bagi film genre. Sejarahnya mencatat Snowpiercer karya Bong Joon-ho hingga Exhuma arahan Jang Jae-hyun pernah mendapat ruang sebagai film dengan bobot sosial yang kuat.
Di jalur inilah Ghost in the Cell ditempatkan: horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga mengusik kesadaran.
Programmer Berlinale, Barbara Wurm, menggambarkan film-film Forum sebagai karya sineas yang memandang sinema sebagai alat refleksi kolektif.
“These are films by people who take their work and its impact seriously: the way it affects our coexistence, our battles, our reconciliations, our history and stories,” ujar Wurm dalam rilis pers.
Dalam Ghost in the Cell, penjara bukan sekadar latar. Ia menjadi metafora sistem—tempat kekuasaan bisa berlindung di balik aturan, dan kemanusiaan diuji di ruang yang paling tertutup. Horor hadir bukan hanya lewat kengerian visual, tetapi melalui rasa terjebak dalam struktur yang timpang.
Produser Tia Hasibuan melihat seleksi Berlinale sebagai penanda penting bagi perjalanan film ini sebelum menyapa penonton Indonesia.
“Ini sekaligus sinyal yang membuat Ghost in the Cell sebagai film yang menjanjikan kekuatan cerita, bahasa sinema, dan gagasan yang kuat dan menarik untuk segera dinikmati penonton bioskop Indonesia,” ujarnya.
Film ke-12 Joko Anwar ini akan menjalani world premiere di bioskop bersejarah Delphi Filmpalast am Zoo, Berlin, dan diputar sepanjang rangkaian Berlinale pada 12–22 Februari 2026.
Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures, film ini juga dipersiapkan untuk menjangkau pasar global dengan Barunson E&A sebagai agen penjualan internasional.
Dari sel penjara yang gelap hingga layar festival di Berlin, Ghost in the Cell menegaskan satu hal: horor Indonesia kini tak hanya menakuti, tetapi juga menggugat.***






