close
RCAST.NET
HOT
BandungOKE
No Result
View All Result
BandungOKE
No Result
View All Result

Program Gaslah Bandung, Ambisi Hijau atau Beban Baru Warga?

by Abdul Hadi
26 Januari 2026 - 09:45
Program Gaslah Bandung, Ambisi Hijau atau Beban Baru Warga?

Bandung, BandungOke – Pemerintah Kota Bandung kembali menampilkan wajah ambisiusnya dalam urusan lingkungan hidup.

Program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah Organik (Gaslah) dikebut pendaftarannya dan dijadwalkan resmi meluncur pada 26 Januari 2026.

RelatedPosts

Penataan PKL Bandung, Janji Keadilan di Tengah Kepentingan Kota

Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar

Larangan Teknologi Termal Kecil, Ujian Serius Kebijakan Sampah Bandung

Targetnya mulia memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dan mengurangi beban TPA. Namun, di balik narasi hijau itu, muncul pertanyaan mendasar soal kesiapan sistem dan keadilan kebijakan.

Pendaftaran Gaslah yang seluruhnya dilakukan secara daring—dari verifikasi hingga penandatanganan kontrak—menjadi penanda arah baru birokrasi digital Pemkot Bandung.

Namun, digitalisasi penuh ini sekaligus menyisakan risiko eksklusi, terutama bagi warga di tingkat RW yang belum sepenuhnya melek teknologi.

Program ini menempatkan Petugas Gaslah sebagai ujung tombak pengelolaan sampah organik berbasis wilayah. Mereka ditargetkan mampu mengolah minimal 25 kilogram sampah organik per hari, menjalankan pelaporan berbasis aplikasi, sekaligus memastikan residu organik terdistribusi ke titik kumpul RW.

Beban kerja yang tidak ringan untuk skema kerja berbasis kontrak.

Pemkot Bandung menyebut Gaslah sebagai langkah strategis.

“Kehadiran Petugas Gaslah diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah organik dari sumbernya sekaligus mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir,” demikian disampaikan dalam siaran pers Diskominfo Kota Bandung.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, syarat administratif yang ketat—mulai dari kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB), pendaftaran di SIKaP, hingga rekomendasi kelurahan—berpotensi menyaring warga yang justru paling dekat dengan persoalan sampah sehari-hari.

Program berbasis komunitas ini berisiko berubah menjadi skema teknokratis yang jauh dari realitas sosial.

Tanpa peta jalan yang transparan—mulai dari skema insentif, jaminan keberlanjutan, hingga pengawasan pasca peluncuran—Gaslah rawan menjadi proyek jangka pendek yang hanya kuat di tahap awal.

Bandung pernah berkali-kali meluncurkan program pengelolaan sampah, namun gugur di fase implementasi.

Di titik ini, Gaslah bukan sekadar soal memilah sampah, melainkan ujian konsistensi kebijakan lingkungan Pemkot Bandung: apakah benar berpihak pada perubahan struktural, atau sekadar memindahkan beban pengelolaan ke level paling bawah—RT dan RW.***

Tags: Disarpus Kota BandungGaslahkebijakan publiklingkunganPemkot Bandungsampah organik
Share219Tweet137Share55

Trending

Dari Maket Kapal ke AI, SPIL Gandeng ITB Kembangkan Logistik
Pendidikan

Dari Maket Kapal ke AI, SPIL Gandeng ITB Kembangkan Logistik

39 menit ago
Diduga Bom di Kosambi, Farhan Tegaskan Aparat Sudah Tangani Serius
Kota Bandung

Penataan PKL Bandung, Janji Keadilan di Tengah Kepentingan Kota

2 jam ago
Program Gaslah Bandung, Ambisi Hijau atau Beban Baru Warga?
Kota Bandung

Program Gaslah Bandung, Ambisi Hijau atau Beban Baru Warga?

4 jam ago
KAI Daop 2 Tambah 4 KA untuk Nataru, Antisipasi Lonjakan Penumpang
Jawa Barat

Tiket KA Lebaran 2026 Resmi Dijual Bertahap Mulai 25 Januari

3 hari ago
Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar
Kota Bandung

Puskesmas Garuda Buka 24 Jam, Akses Layanan Kesehatan Warga Bandung Kian Longgar

3 hari ago
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Kota Bandung
  • Jawa Barat
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Ragam