Jakarta, BandungOke — Horor Indonesia kembali merawat relasinya dengan emosi penonton. Film Kuyank resmi memperkenalkan diri ke publik lewat Gala Premiere Nasional yang digelar di XXI Epicentrum, Jakarta.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026.
Berposisi sebagai prekuel dari Saranjana Universe, Kuyank tidak sekadar memperluas semesta cerita, tetapi menukik lebih dalam pada lapisan emosi manusia: cinta, tekanan sosial, dan ketakutan yang lahir darinya.
Alih-alih mengandalkan kejutan semata, film ini memilih jalur horor yang perlahan menekan, membangun rasa peduli sebelum menghadirkan teror.
Tagline film ini merangkum pendekatan tersebut: “Bukan cinta yang salah. Tekananlah yang menjadikannya kutukan.” Dalam Kuyank, horor tidak hadir sebagai ornamen, melainkan konsekuensi dari konflik yang dibiarkan berlarut—keluarga, adat, dan norma yang menyesakkan pilihan.
Produser Kuyank, Victor G. Pramusinto, menegaskan bahwa film ini sengaja dirancang agar penonton masuk lewat emosi, bukan rasa takut instan.
“Kami ingin penonton masuk lewat emosi, lalu terseret ke teror. Kuyank adalah horor yang membekas karena penonton peduli dulu, baru takut,” ujar Victor.
Sebagai bagian dari Saranjana Universe, Kuyank berdiri sebagai cerita yang utuh. Penonton yang baru mengenal semestanya tetap dapat menikmati kisah ini tanpa prasyarat, sementara penggemar lama akan menemukan akar cerita yang memperkaya pengalaman menonton.
Daya tarik lain film ini terletak pada visual. Sosok Kuyang—makhluk folklor yang kerap hadir dalam imajinasi kolektif masyarakat—dihadirkan melalui CGI premium garapan LMN Studio.
Pendekatan visual ini dirancang untuk layar lebar, menghadirkan kesan realistis dan mencekam tanpa kehilangan nuansa lokal.
Deretan pemain nasional seperti Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, hingga Barry Prima memperkuat konflik emosional yang menjadi fondasi cerita.
Drama keluarga dan horor folklore dipadukan hingga menghasilkan ketegangan yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyesakkan.
Berlatar tujuh tahun sebelum terbukanya gerbang kota gaib Saranjana, Kuyank mengisahkan Rusmiati, perempuan desa yang terjebak dalam tekanan rumah tangga dan tuntutan sosial.
Ketika cinta berubah menjadi kecemasan, dan kecemasan menjelma keputusasaan, jalan gelap pun dipilih—membuka pintu pada teror yang tak bisa ditutup kembali.
Dengan durasi 98 menit dan klasifikasi usia 13 tahun ke atas, Kuyank menempatkan horor sebagai bagian dari gaya hidup menonton: pengalaman emosional yang tidak hanya membuat penonton menjerit, tetapi juga merenung setelah lampu bioskop menyala kembali.***






